Sido Muncul Gelar Operasi Katarak Gratis 200 Mata di RS Maranatha, Bantu Pasien Kembali Melihat Terang

16 hours ago 1

Liputan6.com, Bandung - PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) yang akan memasuki usia ke-75 tahun pada bulan November mendatang, melalui salah satu produk unggulannya, Tolak Angin, kembali menegaskan komitmennya di bidang kesehatan masyarakat melalui kegiatan bakti sosial operasi katarak gratis 200 mata di wilayah Bandung dan sekitarnya. Bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Pusat dan Rumah Sakit (RS) Maranatha Bandung, program Corporate Social Responsibility (CSR) Sido Muncul ini diharapkan membantu masyarakat kembali memperoleh penglihatan lebih baik dan hidup mandiri.

Hingga kini, katarak masih menjadi salah satu penyebab utama kebutaan di Indonesia dengan dampak yang tidak hanya medis, tetapi juga sosial karena dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup. Di tengah keterbatasan akses layanan kesehatan, panjangnya antrian operasi, dan kondisi ekonomi, Sido Muncul hadir melalui kegiatan bakti sosial sebagai bagian dari solusi untuk membantu masyarakat kembali mendapatkan penglihatan dan kualitas hidup yang lebih baik.

Direktur Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, menegaskan bahwa kegiatan operasi katarak gratis ini merupakan bagian dari filosofi hidup dan komitmen sosial yang konsisten dijalankan perusahaan sejak lebih dari satu dekade lalu.

“Sejak tahun 2011, Sido Muncul bersama dengan Perdami dan rumah sakit telah mengoperasi lebih dari 57.000 mata di seluruh Indonesia. Kami akan terus konsisten melakukan operasi katarak gratis karena penderita katarak di Indonesia masih mencapai puluhan hingga ratusan ribu,” kata Irwan Hidayat saat seremoni penyerahan bantuan Operasi Katarak Gratis 200 Mata di RS Maranatha Bandung, Senin (2/2/2026).

Irwan melanjutkan, setiap tahun terjadi penambahan kasus sekitar 0,1 persen atau sekitar 280 ribu orang.

“Jadi ini (operasi katarak) akan terus ada, tidak akan selesai, karena ini penyakit degeneratif. Pemerintah memang ada BPJS, tapi tidak semua tercover, dan kami masuk di sela-sela itu,” tambahnya.

Dari pengalaman masa lalu, Irwan menyadari betul beratnya perjuangan melawan sakit. Karena itu, ia memiliki filosofi hidup bahwa dalam berbisnis bukan semata-mata untuk meningkatkan penjualan, tetapi ada nilai kontribusi dan kebermanfaatan yang bisa diberikan kepada masyarakat. 

Ia menjelaskan, pendanaan operasi katarak tidak hanya berasal dari CSR, tetapi juga dari anggaran iklan. Menurutnya, cara tersebut menjadi bentuk berbisnis yang tetap membawa manfaat, sebagaimana diterapkan dalam promosi pariwisata serta berbagai program sosial seperti operasi katarak, operasi bibir sumbing, dan penanganan stunting.

“Saya berharap teman-teman sesama pengusaha bisa memanfaatkan teori yang saya lakukan, yaitu melakukan CSR sembari berpromosi, promosinya memberi kontribusi. Pada kesempatan ini, kami bekerja sama dengan PERDAMI Pusat dan RS Maranatha. Kegiatan seperti ini (baksos operasi katarak) adalah kesempatan bagi kami untuk berbuat kebaikan. Banyak orang sakit tanpa kemampuan finansial, inilah saatnya kita membantu,” tambahnya.

Ia menegaskan, penglihatan memiliki peran penting bagi kualitas hidup masyarakat. Karena itu, Sido Muncul berkomitmen untuk terus melanjutkan berbagai program sosial di bidang kesehatan.

“Penglihatan itu sangat penting. Dan saya senang sekali bisa berpartisipasi membantu masyarakat, baik operasi katarak, ODGJ, penanganan stunting, maupun operasi bibir sumbing. Komitmen CSR Sido Muncul kami jalankan dengan cara seperti ini,” kata Irwan.

RS Maranatha: Katarak Bukan Hanya Masalah Medis

Direktur Utama RS Maranatha, dr. Ferdinan Sutejo, MMR, menyampaikan bahwa katarak bukan sekadar persoalan medis, melainkan juga masalah sosial yang berdampak luas.

“Katarak dapat menurunkan produktivitas, mengurangi kemandirian, serta menurunkan kualitas hidup seseorang. Karena itu, kegiatan bakti sosial ini bukan hanya memulihkan penglihatan, tetapi juga mengembalikan harapan, kemandirian dan martabat pasien,” ujar dr. Ferdinan.

Sebagai pelaksanaan operasi katarak, RS Maranatha menyiapkan berbagai fasilitas dan tenaga medis untuk mendukung kelancaran operasi. Sebanyak 10 dokter spesialis mata diterjunkan untuk melakukan tindakan operasi.

“Kami menyiapkan dua ruang operasi, poli khusus untuk kontrol pasien, serta layanan respons 1x24 jam jika ada kendala pascaoperasi,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pihaknya meyakini rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan, tetapi juga sebagai institusi sosial yang hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, khususnya masyarakat Kabupaten Bandung.

Kolaborasi CSR Sido Muncul Percepat Layanan Kesehatan

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, dr. Hj. Yuli Irnawati Mosjasari, MM, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dalam kegiatan bakti sosial ini.

“Terima kasih kepada Sido Muncul, RS Maranatha, dan PERDAMI yang selalu membantu Kabupaten Bandung dalam menurunkan angka kesakitan mata,” kata dr. Yuli.

Menurutnya, operasi katarak massal memberikan dampak langsung terhadap pelayanan kesehatan daerah, terutama dalam mengurangi waktu tunggu operasi reguler di rumah sakit. dr. Yuli juga mengajak masyarakat untuk menepis stigma negatif terkait kualitas layanan operasi katarak dalam kegiatan bakti sosial.

“Pelayanan operasi katarak bakti sosial tidak berbeda dengan operasi berbayar. Seluruh tindakan dilakukan sesuai standar medis,” tegasnya.

Lebih lanjut, dr. Yuli berharap kolaborasi CSR seperti yang dilakukan Sido Muncul dapat terus berlanjut demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat. 

"Harapannya, masa produktif masyarakat menjadi lebih panjang dengan kualitas penglihatan yang lebih baik,” pungkas Yuli.

PERDAMI: Katarak Masih Masalah Nasional

Perwakilan Departemen Penanggulangan Buta Katarak Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (DPBK Perdami Pusat), dr. Rizal A. Fanany, SpM(K)., mengungkapkan bahwa beban katarak di Indonesia masih sangat besar dan memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Terlebih, setiap tahun terdapat penambahan kasus baru yang signifikan.

“Setiap tahun ada sekitar 28 ribu kasus baru katarak. Sampai 2023, cakupan operasi katarak di Indonesia baru sekitar 47 persen. Jadi ini sudah menjadi masalah nasional,” katanya.

Karena itu, Rizal mengapresiasi peran sektor swasta, termasuk Sido Muncul, dalam membantu menekan penumpukan kasus katarak melalui kegiatan bakti sosial.

“Kasus baru ini tidak mungkin seluruhnya ditangani pemerintah. Kalau 10 persen saja bisa ditangani lewat bakti sosial, termasuk hari ini bersama Sido Muncul, itu sudah sangat membantu,” ujarnya.

Pasien Bersyukur Bisa Melihat Kembali: Dari Pandangan Berkabut jadi Terang

Program operasi katarak gratis yang didukung PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk memberikan dampak nyata bagi masyarakat kurang mampu. Salah satunya dirasakan Iis Suhaeti (52), warga Margahayu Tengah, yang kini kembali bisa melihat dengan jernih setelah bertahun-tahun mengalami gangguan penglihatan sejak lama dan namun semakin parah dalam setahun terakhir.

“Setahun terakhir penglihatan mulai nggak kerasa jelas, mulai blur. Di mata itu kayak ada lemak di dalamnya. Jadi seperti ada yang menghalangi,” ceritanya.

“Baca juga nggak enak. Pakai kacamata pun tetap nggak nyaman,” tambahnya.

Setelah menjalani operasi katarak gratis, perubahan signifikan langsung dirasakannya. “Alhamdulillah sangat bermanfaat sekali. Sekarang penglihatan jadi jernih, bisa lihat jauh,” ucapnya.

"Terima kasih banyak kepada perusahaan Sido Muncul yang sudah membantu kami, sehingga bisa melihat kembali,” katanya.

Rasa syukur terpancar dari wajah Samri (59 tahun) usai menjalani operasi katarak gratis di Rumah Sakit Maranatha, Bandung. Pria asal Margaasih itu menyebut proses operasi berjalan singkat dan lancar.

“Alhamdulillah, lancar. Kira-kira sekitar 15 menit,” ujar Samri.

Samri bercerita selama enam hingga tujuh bulan terakhir, ia harus menjalani hari-hari dengan penglihatan yang semakin buram. Kabut di mata membuat aktivitasnya sebagai pedagang sayur keliling tak lagi senyaman dulu.

Setelah menjalani operasi katarak, kini Samri berharap penglihatannya kembali pulih sepenuhnya. “Harapannya sehat lagi. Aktivitas lancar, jualan juga lancar,” ucapnya.

Dengan suara bergetar, ia menyampaikan terima kasih kepada RS Maranatha dan Sido Muncul. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Terima kasih banyak.”

Senada, Engkos, warga Sekeloa, berharap penglihatannya segera membaik Usai menjalani operasi. Bagi Engkos, kesempatan melihat dunia dengan lebih jelas adalah anugerah yang tak ternilai di usia senja.

“Terima kasih kepada rumah sakit dan Sido Muncul. Ada operasi mata seperti ini, jadi saya bisa lihat lagi,” ujarnya.

(*)

Read Entire Article