Hari Republik ke-77 India, AHY Soroti Relevansi Ajaran Mahatma Gandhi di Dunia yang Terpecah

1 week ago 20

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa nilai demokrasi dan prinsip moral universal perlu kembali menjadi kompas global di tengah dunia yang semakin terfragmentasi. Pesan tersebut disampaikan AHY dalam peringatan Hari Kemerdekaan ke-77 Republik India di Jakarta.

Menurut AHY, peringatan Hari Republik India bukan sekadar seremoni kenegaraan, melainkan penghormatan terhadap sebuah gagasan hidup yang relevan bagi dunia saat ini.

"Momentum ini tidak hanya menghormati sebuah konstitusi dan sebuah bendera, tetapi juga sebuah gagasan hidup bahwa sebuah bangsa yang besar dan beragam dapat memilih demokrasi, menjunjung pluralisme, dan melangkah maju dengan penuh keyakinan," ujar AHY yang hadir sebagai salah satu tamu kehormatan pada Selasa (27/1/2026) malam.

Ia menggambarkan kondisi global saat ini sebagai situasi yang jauh dari stabil dan sarat dengan ketidakpastian.

"Malam ini adalah sebuah perayaan, tetapi juga sebuah momen untuk merenung. Dunia tidak sedang berada dalam keadaan yang tenang. Dunia bersifat volatil, penuh ketidakpastian, dan sarat dengan kejutan," kata AHY.

"Persaingan geopolitik semakin menajam. Kerja sama sedang diuji. Rantai pasok sedang disusun ulang," lanjutnya menambahkan bahwa ketahanan energi terasa semakin tidak pasti, dan guncangan iklim datang semakin sering serta menghantam semakin keras.

Dalam konteks tersebut, AHY menilai dunia mudah tergoda oleh kecurigaan dan jalan pintas. Karena itu, ia mengangkat kembali pemikiran Mahatma Gandhi sebagai kompas moral global yang tetap relevan.

"Itulah sebabnya kompas pemikiran Mahatma Gandhi terasa sangat relevan, yaitu satya dan ahimsa—kebenaran dan tanpa kekerasan," tegas AHY. "Nilai-nilai ini mengingatkan kita untuk menjaga dialog tetap terbuka dan kerja sama berpijak pada prinsip."

Ia menekankan keterkaitan langsung antara kebenaran, kepercayaan, dan stabilitas global.

"Ketika kebenaran dilemahkan, kepercayaan runtuh. Ketika pengendalian diri menghilang, eskalasi menjadi semakin mudah terjadi," tutur AHY.

AHY menegaskan pula bahwa kemitraan antarnegara tidak seharusnya dinilai dari simbol dan seremoni, melainkan dari dampak nyata bagi masyarakat.

"Karena itu, kemitraan harus diukur bukan dari seremoni, tetapi dari hasil—hasil yang dapat dirasakan masyarakat dalam perdagangan, konektivitas, dan kebutuhan dasar keamanan sehari-hari, termasuk pangan dan energi, serta komunitas yang mampu bertahan menghadapi krisis," sebut AHY.

Dalam kerangka tersebut, AHY menempatkan hubungan Indonesia–India sebagai kemitraan strategis yang memiliki tanggung jawab besar bagi kawasan.

"Kita dekat secara geografis dan terhubung oleh sejarah. Namun yang terpenting, kita berbagi tanggung jawab sebagai negara demokrasi besar dan bangsa maritim untuk menjaga kawasan kita tetap terbuka, stabil, dan sejahtera," ungkapnya.

Ia menegaskan pilihan kedua negara dengan mengatakan, "Di tengah dunia yang sedang terpecah, kita memilih untuk saling mendekat dan bekerja bersama."

AHY menyebut bahwa hubungan Indonesia dan India dalam beberapa tahun terakhir semakin menguat. Hal itu antara lain ditandai oleh kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke India dan kehormatan yang diberikan kepada Indonesia ketika Presiden Prabowo diundang sebagai tamu utama dalam peringatan Hari Republik India.

"Partisipasi 352 personel Tentara Nasional Indonesia, termasuk pasukan defile dan drumband Akademi Militer dalam parade Hari Republik India, merupakan sinyal publik yang jelas bahwa kemitraan kita dibangun atas dasar kepercayaan, hubungan antar-masyarakat, dan kerja sama antar-lembaga," beber AHY.

Read Entire Article