Waspada Child Grooming di Game Online, Ini Pesan IDAI untuk Orangtua

15 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Child grooming bisa terjadi di mana saja, termasuk saat anak bermain game online. Guna menjauhkan anak dari risiko itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan agar orangtua harus memastikan seluruh akun game anak menggunakan pengaturan privasi. 

"Batasi siapa saja yang bisa mengirim pesan, mengundang bermain, atau melihat profil anak, sehingga interaksi dengan orang asing bisa diminimalkan," kata Anggota Unit Koordinasi Tumbung Kembang dan Pediatri Sosial, dokter Ariani dalam sesi daring pada Selasa, 31 Maret 2026.

Fitur parental control juga penting dimanfaatkan untuk memantau daftar teman, riwayat percakapan, durasi bermain, hingga perpindahan komunikasi ke platform lain di luar game yang sering menjadi celah pelaku.

Kemudian, anak perlu dibekali pemahaman tentang batas informasi pribadi yang tidak boleh dibagikan di ruang obrolan game. 

“Ajarkan anak untuk tidak memberikan identitas atau informasi pribadi sepeti nama lengkap, alamat rumah, sekolah, nomor telepon, foto, hingga kebiasaan sehari-hari yang tidak boleh diberikan kepada siapa pun, termasuk di ruang chat game,” saran Ariani.

Orangtua juga perlu membuat aturan seperti selalu memberi tahu jika ada seseorang yang menawarkan hadiah, meminta pindah ke private chat, atau mengajak panggilan suara. Dengan komunikasi yang terbuka dan pengawasan digital yang konsisten, anak memiliki perlindungan sehingga risiko child grooming bisa dicegah sejak tahap awal.

Tahapan Grooming di Dunia Game Online Perlu Diwaspadai

Pelaku grooming di dunia game umumnya bergerak melalui beberapa tahap yang sistematis. Tahap awal dimulai dari memilih target, biasanya anak yang terlihat sering bermain sendiri, mudah mencari teman baru, atau tampak aktif dalam ruang chat publik. 

Pelaku masuk ke tahap membangun kepercayaan dengan sering menemani bermain, membantu menyelesaikan misi, atau memberikan sesuatu agar anak merasa diperhatikan.

Selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan emosional anak. Pelaku akan mulai memberi pujian, perhatian berlebih, hingga menjadikan dirinya tempat curhat yang paling nyaman bagi korban. 

Setelah kedekatan terbentuk, anak perlahan diarahkan masuk ke ruang obrolan yang lebih privat, seperti chat pribadi, panggilan suara, atau platform lain di luar game. 

“Pelaku biasanya memindahkan komunikasi dari ruang publik game ke chat pribadi agar kontrol terhadap korban semakin kuat,” tuturnya. 

Lama-kelamaan, pelaku berusaha menjauhkan anak dari lingkungan dengan meminta percakapan dirahasiakan. Dalam fase ini, anak mulai merasa memiliki ikatan khusus dan sulit menolak permintaan pelaku.

Ciri-Ciri Anak Mengalami Child Grooming

Perubahan perilaku anak sering menjadi tanda paling awal bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Anak yang sebelumnya terbuka bisa tiba-tiba menjadi tertutup, mudah marah, cemas, atau lebih sering menghabiskan waktu sendirian di kamar sambil bermain game. 

Anak cenderung lebih privasi terhadap ponsel, dan akun game, misalnya menolak ketika orang tua ingin melihat isi percakapan.

Tanda lain adalah munculnya hadiah yang tidak wajar, seperti skincare mahal, voucher, pulsa, atau bahkan gawai baru dari seseorang yang tidak jelas. Hadiah ini menjadi alat pelaku untuk membangun ketergantungan emosional pada anak. 

“Diberi hadiah yang tidak sesuai kemampuan anak seusianya harus menjadi kewaspadaan bagi orang tua, karena sering dipakai sebagai ikatan emosional oleh pelaku grooming,” ujarnya. 

Selain itu, prestasi sekolah bisa menurun, anak mulai menjauh dari teman sebayanya, sering melakukan panggilan malam dengan orang yang tidak dikenal keluarga. Jika gejala ini muncul bersamaan, orang tua perlu memulai komunikasi yang hangat, mengamankan akses digital anak, dan mencari bantuan profesional agar dampak psikologis bisa dicegah. 

Read Entire Article