Sering Lelah Setelah Naik KRL? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Selama Ini Diabaikan

5 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Rasa lelah setelah naik KRL sering dianggap hal biasa. Padahal, kondisi ini bisa menjadi sinyal adanya masalah kesehatan (health) dan keselamatan (safety) yang selama ini luput dari perhatian para komuter.

Setiap hari, jutaan orang melakukan perjalanan menggunakan KRL untuk bekerja. Rutinitas ini bukan hanya menguras waktu, tapi juga berdampak pada kondisi fisik dan mental. Mulai dari kurang tidur, dehidrasi, hingga stres perjalanan, semuanya bisa berkontribusi pada rasa lelah yang terus menumpuk.

Ketua Health Collaborative Center (HCC) Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK mengungkapkan bahwa kelelahan setelah commute bukan sekadar rasa capek biasa. Ada faktor medis yang berperan di baliknya.

“Perjalanan harian memengaruhi tekanan darah, hormon stres, kualitas tidur, hingga kesehatan mental. Jika berlangsung terus-menerus, ini bisa menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan,” ujar Dr. Ray.

Salah satu penyebab utama adalah kurang tidur. Banyak komuter harus bangun lebih pagi demi mengejar jadwal kereta. Tidur kurang dari enam jam membuat refleks melambat dan konsentrasi menurun. Akibatnya, tubuh lebih mudah lelah bahkan sebelum aktivitas kerja dimulai.

Selain itu, dehidrasi sering terjadi tanpa disadari. Tidak sedikit orang sengaja mengurangi minum agar tidak bolak-balik ke toilet selama perjalanan. Padahal, kekurangan cairan bisa menyebabkan pusing, lemas, hingga jantung berdebar.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah posisi tubuh selama perjalanan. Berdiri lama sambil membawa tas berat dengan postur yang tidak ideal dapat memicu nyeri otot dan sendi. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan muskuloskeletal.

"Komuter yang mengalami kelelahan kronis biasanya lebih mudah sakit, emosinya meningkat, fokus menurun, dan lebih rentan mengalami kecelakaan," kata Ray.

Kondisi kereta yang padat juga menambah beban fisik dan mental. Desakan penumpang bisa memicu stres, sesak napas, bahkan panic attack pada sebagian orang. Belum lagi tekanan psikologis karena takut terlambat kerja atau meeting penting.

Untuk itu, penting bagi komuter untuk mulai memperhatikan kesehatan sejak sebelum berangkat. Tidur cukup, sarapan ringan dengan protein, dan minum air yang cukup adalah langkah sederhana yang bisa membantu menjaga stamina.

Selama di perjalanan, pastikan tubuh tetap dalam posisi yang aman. Pegang handle dengan benar, hindari bersandar di pintu, dan gunakan tas di bagian depan saat kondisi padat.

Jika merasa pusing atau sesak, segera cari posisi yang lebih nyaman dan jangan ragu meminta bantuan. Ray juga mengingatkan agar tidak mengabaikan sinyal dari tubuh.

"Jika Anda sering merasa pusing, sesak di keramaian, nyeri dada, atau hampir pingsan saat commute, itu adalah tanda yang tidak boleh diabaikan," tambahnya.

Pada akhirnya, kata Ray, bekerja memang penting. Namun, menjaga tubuh dan mental tetap sehat selama perjalanan jauh lebih krusial. "Karena commute yang aman dan sehat adalah kunci untuk menjalani hari dengan optimal," pungkasnya.

Read Entire Article