Penyakit Jantung Bawaan, Kenali Tipe dan Gejalanya Sejak Dini

19 hours ago 5
  • Apa itu Penyakit Jantung Bawaan (PJB)?
  • Berapa prevalensi PJB di Indonesia?
  • Apa saja jenis utama Penyakit Jantung Bawaan?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah kelainan pada struktur atau fungsi jantung pada bayi yang terjadi sejak masih dalam kandungan. Kondisi ini terjadi karena proses pembentukan jantung janin yang tidak sempurna pada kehamilan.

Di Indonesia angka prevalensi kasus penyakit jantung bawaan kira-kira 8 per 1000 kelahiran. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan jantung dalam memompa darah secara optimal ke seluruh tubuh seperti disampaikan dokter spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah, Putri Reno Indrisia di Bethsaida Hospital Gading Serpong, Banten.

Putri mengungkapkan penyakit jantung bawaan dibagi menjadi 2 kelompok utama,yakni:

1. PJB Non-Sianotik (Tidak Biru)

PJB No-Sianotik merupakan jenis yang paling sering ditemukan. Pada kondisi ini, kadar oksigen dalam darah yang beredar ke seluruh tubuh masih cukup baik sehingga anak tidak terlihat kebiruan.

Salah satu contoh kondisi pada kelompok ini adalah defek septum atrium (ASD) atau defek septum ventrikel (VSD), dimana PJB terjadi karena adanya lubang pada sekat jantung yang memisahkan ruang-ruang jantung.

2. PJB Sianotik (Tipe Biru)

Jenis ini lebih serius karena terjadi percampuran darah yang rendah oksigen dengan darah yang kaya oksigen, sehingga darah yang dipompa ke tubuh menjadi kekurangan oksigen.

“Pada kondisi ini biasanya muncul tanda khas berupa bibir, lidah, atau ujung jari yang tampak kebiruan. Gejala tersebut bisa semakin terlihat saat anak menangis atau kelelahan,” kata Putri dalam keterangan tertulis.

Tetralogy of Fallot (ToF) dan transposisi pembuluh darah besar atau letak pembuluh darah tidak pada tempat seharusnya merupakan contoh kondisi dengan PJB tipe biru.

Gejala PJB, Ada yang Baru Terdeteksi Saat Bertambah Usia

Putri mengungkapkan gejala penyakit jantung bawaan bisa muncul sejak bayi lahir. Namun, pada beberapa kasus baru terdeteksi ketika anak mulai bertambah usia.

Gejala yang muncul pada bayi di antaranya:

  • Bayi menyusu terputus-putus atau berkeringat saat menyusu
  • Berat badan sulit naik (terhambatnya tumbuh kembang)
  • Sering mengalami infeksi saluran pernapasan seperti batuk dan pilek berulang, mengalami infeksi paru atau pneumonia
  • Bibir, lidah, atau ujung jari tampak kebiruan.

Sementara itu, gejala PJB pada anak yang lebih besar, salah satunya berat badan sulit naik sehingga pertumbuhan lebih lambat dibandingkan anak seusianya.

“Pada anak dengan penyakit jantung bawaan, tubuh membutuhkan kalori lebih tinggi untuk membantu kerja jantung dan proses pernapasan. Kondisi ini sering menyebabkan berat badan anak sulit naik dan pertumbuhan menjadi terhambat dibandingkan anak seusianya,” jelas Putri.

Gejala PJB pada anak yang lebih besar dapat berupa:

  • Mudah lelah saat bermain atau berolahraga
  • Pertumbuhan lebih lambat dibandingkan teman sebaya
  • Nyeri dada atau jantung berdebar
  • Ujung jari tampak membulat (clubbing finger)
  • Bibir dan ujung jari tampak kebiruan saat kelelahan.

Apakah Anak Alami PJB? Mesti Jalani Pemeriksaan Komprehensif

Untuk mengetahui dengan pasti maka perlu pemeriksaan untuk menunjang diagnosis. Putri mengatakan bisa dengan mendengarkan suara jantung untuk mendeteksi bunyi tidak normal atau auskultasi. Lalu, mengukur kadar oksigen dalam darah, terutama pada bayi bayi baru lahir menggunakan pulse oximetry.

Lalu, lima hal lainnya yang perlu alat medis mumpuni yakni:

  • Elektrokardiogram (EKG), merekam aktivitas listrik jantung untuk melihat gangguan atau pembesaran ruang jantung.
  • Rontgen Dada, menilai kondisi jantung dan paru, termasuk kemungkinan pembesaran jantung.
  • Echocardiography (USG Jantung), ini merupakan pemeriksaan utama (gold standard) untuk melihat struktur jantung secara detail.
  • CT Scan & MRI Jantung, memberikan gambaran lebih detail mengenai struktur dan fungsi jantung.
  • Kateterisasi Jantung, mengevaluasi tekanan dalam ruang jantung dan membantu menentukan terapi.

"Dengan pemeriksaan yang komprehensif, diagnosis dapat ditegakkan secara tepat sehingga penanganan dapat dilakukan secara optimal," tutur Putri.

Bila Temukan Gejala Segera Konsultasi

Ia pun menyarankan bagi orangtua, bila anak menunjukkan gejala untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis untuk ditangani lebih lanjut. Hal ini karena deteksi dini menjadi kunci dalam penanganan penyakit jantung bawaan.

Setelah diagnosis ditegakkan,kata Putri, penanganan dilakukan sesuai kondisi pasien, mulai dari terapi obat, tindakan intervensi non-bedah seperti pemasangan balon atau stent, hingga tindakan pembedahan untuk memperbaiki kelainan struktur jantung.

Pendekatan penanganan yang menyeluruh tersebut juga mulai banyak diterapkan di berbagai fasilitas layanan kesehatan, termasuk melalui layanan khusus jantung yang mencakup pemeriksaan hingga terapi lanjutan sesuai kebutuhan pasien.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, mengatakan penanganan jantung perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari deteksi dini hingga tindak lanjut, agar pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dan kondisi dapat terpantau dengan baik.

Read Entire Article