Media Sosial Bisa Picu Tantrum pada Anak, Ini Cara Mengatasinya

19 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Penggunaan media sosial (medsos) pada anak kini menjadi perhatian serius. Tidak sedikit orang tua yang menghadapi situasi sulit ketika anak tiba-tiba marah, menangis, atau tantrum saat dilarang bermain gadget. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai sikap manja atau pembangkangan.

Padahal, menurut Pendiri dan Ketua Health Collaborative Centre (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, reaksi tersebut berkaitan dengan mekanisme biologis di otak anak.

"Ketika anak terbiasa mendapatkan stimulasi dari media sosial, lalu tiba-tiba dihentikan, otak mengalami apa yang disebut dopamine withdrawal," katanya.

Dampak Medsos pada Otak Anak

Media sosial memberikan rangsangan instan berupa video, notifikasi, dan 'like' yang memicu pelepasan dopamin, zat kimia di otak yang berperan dalam rasa senang.

Ketika akses tersebut dihentikan secara mendadak, kata Ray, otak merasakan kehilangan. Akibatnya, anak bisa menunjukkan reaksi emosional seperti:

  • Marah
  • Frustrasi
  • Gelisah
  • Tantrum

"Ini bukan sekadar soal perilaku, tapi juga respons otak terhadap perubahan stimulus yang tiba-tiba," tambah Ray.

1. Berikan Waktu Transisi

Menghentikan penggunaan gadget secara mendadak dapat memperparah reaksi anak. Sebaiknya, berikan jeda waktu sebelum benar-benar menghentikan aktivitas.

Misalnya, beri peringatan seperti,"10 menit lagi selesai ya." Cara ini membantu otak anak beradaptasi dengan perubahan.

2. Alihkan ke Aktivitas Lain

Otak anak tidak menyukai 'kekosongan' setelah kehilangan sumber kesenangan. Oleh sebab itu, penting untuk mengganti aktivitas tersebut dengan hal lain yang tetap menyenangkan.

  • Bermain fisik
  • Kegiatan kreatif
  • Interaksi sosial dengan teman atau keluarga

"Memberikan alternatif aktivitas membantu menyeimbangkan sistem reward di otak," kata Ray.

3. Hindari Berdebat Saat Anak Tantrum

Saat anak sedang dalam kondisi emosi tinggi, bagian otak yang mengatur logika belum bekerja optimal. Yang aktif justru pusat emosi.

Karena itu, menasihati atau berdebat pada saat tersebut biasanya tidak efektif. Lebih baik fokus menenangkan anak terlebih dahulu.

4. Buat Aturan yang Konsisten

Anak lebih mudah menerima batasan jika aturan sudah disepakati sejak awal. Misalnya, menentukan waktu penggunaan gadget atau membuat jadwal tanpa layar.

Aturan yang konsisten dapat mengurangi konflik yang muncul secara tiba-tiba.

5. Orang Tua Jadi Contoh

Perilaku orang tua juga berpengaruh besar. Anak cenderung meniru kebiasaan yang mereka lihat.

Jika orang tua terus-menerus menggunakan gadget, anak akan sulit memahami alasan pembatasan. Karena itu, penting untuk membangun kebiasaan digital yang sehat dalam keluarga.

Read Entire Article