Anak Tantrum saat Dilarang Main Medsos, Ini yang Terjadi di Otaknya

20 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Anak yang tiba-tiba marah, menangis, atau meledak emosinya saat dilarang bermain media sosial sering kali dianggap sebagai bentuk pembangkangan atau sikap manja. Padahal, di balik reaksi tersebut, ada mekanisme biologis yang terjadi di otak.

Pendiri dan Ketua Health Collaborative Centre (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan dengan apa yang disebut sebagai dopamine withdrawal.

"Ketika anak terbiasa mendapatkan stimulasi instan dari media sosial, seperti video, notifikasi, dan ‘like’, otak mereka menerima lonjakan dopamin. Saat akses itu dihentikan secara tiba-tiba, otak merasakan kehilangan," ujarnya dikutip Health Liputan6.com dari unggahan di akun Instagram @hcc.Indonesia pada Senin, 30 Maret 2026.

Dopamin adalah zat kimia di otak yang berperan dalam sistem reward atau rasa senang. Media sosial dirancang untuk memicu pelepasan dopamin secara cepat dan berulang, sehingga membuat penggunanya merasa nyaman dan ingin terus kembali.

Pada anak, sistem ini masih berkembang. Akibatnya, mereka lebih rentan terhadap efek ketergantungan dari stimulasi digital.

Ketika akses ke media sosial dihentikan, otak anak mengalami penurunan dopamin secara mendadak. Kondisi inilah yang memicu reaksi emosional, seperti:

  1. Marah
  2. Frustrasi
  3. Gelisah
  4. Tantrum

"Ini bukan semata-mata soal perilaku, tapi respons biologis dari otak terhadap perubahan stimulus," ujar Ray.

Kenapa Tantrum Terjadi?

Saat anak mengalami tantrum, bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan dan kontrol diri, yaitu prefrontal cortex, belum bekerja secara optimal.

Sebaliknya, kata Ray, bagian otak yang mengatur emosi, yaitu amigdala, justru lebih aktif. Kondisi ini membuat anak sulit menerima penjelasan logis saat sedang marah.

Itulah sebabnya, perdebatan atau nasihat sering kali tidak efektif ketika tantrum sedang berlangsung.

Cara Mengatasi Tantrum karena Medsos

Menghadapi kondisi ini, orang tua perlu memahami bahwa pendekatan yang tepat sangat penting. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

1. Hindari Penghentian Mendadak

Mengambil gawai secara tiba-tiba dapat memperparah reaksi emosional anak. Sebaiknya, berikan waktu transisi.

"Transisi membantu otak anak beradaptasi dengan perubahan, sehingga tidak terjadi ‘shock’ pada sistem reward," kata Ray.

2. Ganti dengan Aktivitas Lain

Setelah menghentikan penggunaan gadget, tawarkan aktivitas alternatif yang juga menyenangkan, seperti bermain fisik, menggambar, atau bermain bersama teman.

Hal ini membantu menjaga keseimbangan dopamin di otak anak.

3. Tenangkan Dulu Emosi Jangan Langsung Menasihati

Saat anak sedang tantrum, fokus utama adalah menenangkan emosi terlebih dahulu. Diskusi logis sebaiknya dilakukan setelah anak mulai tenang.

4. Buat Aturan Sejak Awal

Aturan penggunaan gadget yang jelas, seperti batas waktu layar atau jam tanpa gadget, dapat membantu mencegah konflik.

5. Orang Tua Jadi Contoh

Anak belajar dari lingkungan sekitarnya. Jika orang tua juga mampu mengatur penggunaan gadget, anak akan lebih mudah mengikuti.

Read Entire Article