7 Makanan Paling Disukai Sel Kanker, Batasi Konsumsinya Demi Kesehatan

4 days ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Pola makan memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan tubuh, termasuk dalam upaya pencegahan penyakit kronis seperti kanker. Ada jenis makanan yang merujuk pada asupan yang menciptakan lingkungan kondusif bagi pertumbuhan sel abnormal atau mengandung zat karsinogenik. Sel kanker membutuhkan energi untuk berkembang biak, dan beberapa makanan dapat menyediakan bahan bakar ini secara berlebihan atau memicu kerusakan sel.

Memahami hubungan antara diet dan risiko kanker menjadi sangat penting bagi setiap individu. Konsumsi makanan tertentu secara berlebihan dapat meningkatkan peluang seseorang terkena kanker, meskipun tidak selalu menjadi penyebab tunggal. Oleh karena itu, kesadaran akan jenis makanan yang sebaiknya dibatasi atau dihindari adalah langkah awal yang proaktif dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

Ketahui kategori makanan utama yang berpotensi memicu pertumbuhan sel kanker atau meningkatkan risiko kanker, dilengkapi dengan penjelasan mendalam mengenai mekanismenya. Berikut selengkapnya:

Gula dan Karbohidrat Olahan

Gula tambahan dan makanan tinggi karbohidrat olahan, seperti nasi putih, roti tawar, kue, permen, dan soda, dapat menyebabkan peningkatan drastis kadar gula darah. Sel kanker diketahui menggunakan glukosa (gula darah) sebagai sumber energi utama mereka, sehingga asupan gula berlebih dapat menciptakan lingkungan yang 'subur' bagi perkembangannya.

Meskipun gula tidak secara langsung menyebabkan kanker, konsumsi berlebihan dapat berkontribusi pada obesitas, yang merupakan faktor risiko signifikan untuk beberapa jenis kanker, termasuk kanker usus, payudara, dan hati. Obesitas sendiri memicu peradangan kronis dan perubahan hormonal yang mendukung pertumbuhan sel kanker.

Selain itu, diet tinggi gula juga berkontribusi terhadap kondisi seperti diabetes dan resistensi insulin, yang keduanya dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai jenis kanker. Peningkatan kadar gula darah dan hormon insulin akibat asupan gula berlebih dapat menjadi pemicu terjadinya kanker secara tidak langsung.

Daging Olahan

Daging olahan, meliputi sosis, nugget, bacon, ham, dan daging asap, telah dikaitkan dengan risiko tinggi kanker usus besar. Proses pengolahan daging seperti pengasapan, pengasinan, dan pengawetan dapat menghasilkan zat-zat karsinogenik yang berbahaya bagi tubuh.

Produk seperti bakso instan dan kornet juga termasuk dalam kategori daging olahan yang berpotensi meningkatkan risiko kanker kolorektal jika dikonsumsi secara berlebihan. Pembatasan asupan daging olahan menjadi langkah penting dalam strategi pencegahan kanker.

Daging Merah Berlebihan

Konsumsi daging merah dalam jumlah berlebihan, seperti daging sapi, babi, dan kambing, dapat meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker usus, kanker pankreas, dan kanker prostat. Risiko ini semakin meningkat jika daging merah diolah dengan cara dipanggang, dibakar, atau digoreng hingga matang sempurna.

Metode memasak dengan suhu tinggi tersebut dapat memicu terbentuknya zat atau senyawa karsinogenik yang berbahaya bagi tubuh. Senyawa ini dapat merusak DNA sel dan memicu mutasi yang berujung pada pembentukan kanker.

Makanan yang Dibakar, Digoreng, atau Gosong

Makanan yang dimasak dengan suhu sangat tinggi hingga gosong, seperti sate atau daging bakar, dapat menghasilkan senyawa berbahaya. Senyawa seperti Heterocyclic Amines (HCA) dan Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) yang bersifat karsinogenik dapat terbentuk dalam proses ini.

Selain itu, makanan bertepung yang dimasak pada suhu tinggi, seperti kentang goreng dan keripik kentang, berpotensi membentuk senyawa akrilamida. Akrilamida adalah zat karsinogenik yang dapat merusak DNA dan meningkatkan risiko kanker.

Gorengan pada umumnya juga tinggi lemak jenuh, dan konsumsi rutinnya sebaiknya dihindari, terutama bagi pasien kanker. Memilih metode memasak yang lebih sehat seperti merebus atau mengukus dapat membantu mengurangi paparan zat karsinogenik.

Minuman Beralkohol

Konsumsi alkohol berlebihan merupakan faktor risiko yang signifikan untuk berbagai jenis kanker, termasuk kanker hati, kanker mulut, tenggorokan, kerongkongan, usus besar, rektum, dan payudara. Alkohol dapat merusak sel-sel tubuh melalui berbagai mekanisme.

Menurut banyak penelitian, alkohol terbukti sebagai zat penyebab kanker pada manusia. Kandungan etanol dalam alkohol dapat merusak sel dengan mengikat DNA, sementara asetaldehida, produk metabolisme alkohol, dapat merusak DNA secara permanen.

Bahkan konsumsi alkohol dalam jumlah kecil pun telah terbukti dapat meningkatkan risiko kanker. Oleh karena itu, pembatasan atau penghindaran total alkohol sangat dianjurkan sebagai bagian dari strategi pencegahan kanker.

Makanan Ultra-Olahan (Ultra Processed Food)

Makanan ultra-olahan umumnya mengandung banyak zat aditif seperti pengawet, pengemulsi, pemberi rasa, serta bahan pemutih atau pengembang. Makanan jenis ini cenderung rendah serat namun tinggi kalori, gula, lemak, garam, dan biji-bijian olahan.

Konsumsi makanan ultra-olahan yang tinggi kalori tetapi minim nutrisi dapat meningkatkan risiko kanker dengan menyebabkan penambahan berat badan dan obesitas. Obesitas adalah faktor risiko yang dikenal untuk berbagai jenis kanker.

Studi terbaru menunjukkan hubungan signifikan antara konsumsi makanan ultra-olahan dengan meningkatnya kasus kanker usus besar dini, terutama pada generasi muda. Contoh makanan ini meliputi roti kemasan, saus instan, serta minuman manis atau buatan.

Makanan Tinggi Garam

Asupan garam yang berlebihan, terutama dari makanan instan, makanan kaleng, atau makanan fermentasi berlebihan, dapat merusak lapisan pelindung lambung. Kerusakan ini meningkatkan risiko terjadinya kanker lambung.

Makanan asin, termasuk makanan yang diawetkan seperti daging asap, dendeng, dan ikan asin, cenderung tinggi garam namun rendah kandungan gizi. Konsumsi rutin makanan-makanan ini telah dikaitkan secara langsung dengan peningkatan risiko kanker lambung.

Penelitian juga menunjukkan bahwa garam memiliki efek yang memicu pertumbuhan sel kanker pada individu yang terinfeksi bakteri Helicobacter pylori. Oleh karena itu, membatasi asupan garam adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan lambung dan mengurangi risiko kanker.

5 Pertanyaan dan Jawaban

1. Apakah benar sel kanker menyukai gula?

Sel kanker memang menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama untuk berkembang biak. Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan kadar gula darah dan insulin, yang secara tidak langsung menciptakan lingkungan kondusif bagi pertumbuhan sel kanker. Meski gula bukan penyebab langsung kanker, pembatasannya penting untuk menurunkan risiko.

2. Makanan apa saja yang paling berisiko memicu kanker?

Makanan yang paling berisiko meningkatkan kanker antara lain daging olahan, daging merah berlebihan, makanan ultra-olahan, makanan yang dibakar atau digoreng hingga gosong, minuman beralkohol, serta makanan tinggi gula dan garam. Konsumsi rutin makanan tersebut dikaitkan dengan peradangan kronis dan paparan zat karsinogenik.

3. Apakah daging olahan benar-benar bisa menyebabkan kanker?

Ya, daging olahan telah diklasifikasikan oleh WHO sebagai karsinogen Grup 1. Artinya, terdapat bukti ilmiah kuat bahwa konsumsi daging olahan seperti sosis, bacon, dan nugget dapat meningkatkan risiko kanker, terutama kanker usus besar dan lambung.

4. Apakah makanan yang dibakar dan gosong berbahaya bagi kesehatan?

Makanan yang dibakar atau dimasak hingga gosong berpotensi menghasilkan senyawa karsinogenik seperti HCA, PAH, dan akrilamida. Senyawa ini dapat merusak DNA sel dan meningkatkan risiko kanker jika dikonsumsi secara rutin, sehingga metode memasak bersuhu tinggi sebaiknya dibatasi.

5. Bagaimana cara mengurangi risiko kanker melalui pola makan?

Risiko kanker dapat dikurangi dengan membatasi gula, garam, daging olahan, alkohol, serta makanan ultra-olahan. Sebagai gantinya, perbanyak konsumsi sayur, buah, biji-bijian utuh, protein nabati, dan gunakan metode memasak sehat seperti merebus atau mengukus.

Read Entire Article