Liputan6.com, Jakarta - Hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) menunjukkan bahwa satu dari tujuh anak di Indonesia memiliki kadar timbal darah yang tinggi dan memerlukan penanganan lebih lanjut.
Paparan timbal diketahui berdampak serius terhadap kesehatan, terutama pada anak-anak. Kadar timbal yang tinggi dapat mengganggu tumbuh kembang, menurunkan kecerdasan atau IQ, serta memicu berbagai masalah kesehatan jangka panjang lainnya.
Ironisnya, paparan timbal kerap tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas. Karena bersifat kronis dan dapat menyebabkan dampak permanen, kondisi ini sering luput dari perhatian. Oleh sebab itu, deteksi dini dan identifikasi sumber paparan timbal menjadi langkah krusial untuk melindungi kesehatan anak.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, yang mewakili Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, menjelaskan, SKTD memberikan gambaran awal mengenai besarnya masalah paparan timbal pada anak di Indonesia.
Melalui surveilans ini, pemerintah dapat mengidentifikasi faktor risiko utama yang perlu ditangani melalui berbagai pendekatan, mulai dari intervensi klinis, perbaikan lingkungan, hingga kebijakan publik.
"Data prevalensi kadar timbal darah dan potensi sumber utama paparan timbal sangat penting sebagai dasar perumusan kebijakan yang tepat sasaran. Tanpa data, upaya pencegahan akan sulit diukur dan dievaluasi," kata Then Suyanti dalam diseminasi hasil SKTD di Jakarta Selatan pada Rabu, 21 Januari 2026.
Dia, menambahkan, Kementerian Kesehatan telah memiliki Pedoman Nasional Tata Laksana Klinis, Komunitas, dan Lingkungan Akibat Pajanan Timbal.
SKTD Tahap Pertama
Pedoman ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi fasilitas pelayanan kesehatan dalam mengambil langkah intervensi yang tepat, baik pada individu maupun di tingkat komunitas.
Dengan adanya data dan pedoman yang jelas, pemerintah menargetkan penanganan paparan timbal dapat dilakukan secara lebih terarah untuk mencegah dampak jangka panjang pada generasi mendatang.
SKTD Tahap Pertama dilaksanakan di sepanjang Mei hingga November 2025 di enam provinsi dengan melibatkan 1.617 anak usia 12 s.d 59 bulan.
Kegiatan mencakup pelatihan kader dan tenaga kesehatan, pemeriksaan kadar timbal darah anak, pengumpulan sampel dan pengujian kadar timbal pada produk rumah tangga dan di lingkungan rumah, serta sosialisasi hasil dan konseling kepada orang tua atau wali.
Surveilans ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan terkait baik di tingkat nasional, daerah, dan hingga komunitas.
Kepala Organisasi Riset dan Kesehatan - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. drh. Ni Luh Putu Indi Darmayanti, mengatakan, melalui koordinasi dengan berbagai pihak terkait, SKTD dilaksanakan dengan metodologi penelitian yang ketat mulai dari perencanaan desain studi dan pemilihan sampel hingga pengumpulan dan analisis data.
"Semua ini untuk memastikan data yang dihasilkan dapat menjadi rujukan dalam pengambilan kebijakan berbasis bukti ilmiah," ujar Ni Luh.
Anak yang Tinggal di Rumah dengan Cat Terkelupas Lebih Berisiko
Hasil SKTD menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 7 anak Indonesia memiliki kadar timbal darah di atas 5 mikrogram/desiliter (µg/dL), yaitu ambang batas yang ditetapkan Kementerian Kesehatan dan WHO untuk intervensi klinis dan lingkungan.
Temuan juga menunjukkan bahwa anak yang tinggal di rumah dengan cat terkelupas berisiko 61 persen lebih tinggi memiliki kadar timbal darah 25 µg/dL, sementara pekerjaan orang tua yang berkaitan dengan timbal, penggunaan alat masak berbahan logam, serta penggunaan bedak/kosmetik berhubungan dengan kadar timbal darah 7-10 persen lebih tinggi pada anak.
Sebaliknya, akses terhadap pendidikan yang lebih tinggi dan tingkat pendapatan yang lebih baik menunjukkan kadar timbal darah anak yang lebih rendah. Hal ini menegaskan pentingnya kebijakan yang berfokus pada keadilan (equity) untuk melindungi seluruh anak dari paparan timbal.
Sumber Timbal di Lingkungan Rumah
Surveilans juga mengidentifikasi sumber utama paparan timbal di lingkungan rumah. Lebih dari 20 persen sampel alat masak logam, alat makan keramik dan plastik, kosmetik, pakaian anak dan orang tua, serta mainan anak mengandung timbal melebihi nilai ambang batas.
Selain itu, setiap kenaikan dua kali lipat dari kadar timbal di tanah, terdapat peningkatan rata-rata kadar timbal darah anak sebesar 8 persen.
"Temuan ini, yang memberikan dasar bagi strategi yang efektif untuk mengurangi paparan timbal pada anak, akan melengkapi keberhasilan Indonesia sebagai salah satu negara pertama yang mengembangkan pedoman klinis penanganan keracunan timbal yang selaras dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)." kata Epidemiolog Vital Strategies, Edwin Siswono, dalam kesempatan yang sama.
Pertu Petakan Wilayah Berisiko dengan Skala Lebih Besar
Penguatan sistem kesehatan melalui surveilans kadar timbal darah secara nasional menjadi salah satu rekomendasi. Direktur Yayasan Pure Earth Indonesia, Budi Susilorini menyampaikan perlu adanya upaya untuk mencatat kasus, memantau faktor risiko lingkungan, serta memetakan wilayah berisiko dengan skala yang lebih besar.
"Kita bisa mengambil pembelajaran dari pelaksanaan SKTD Tahap Pertama ini untuk meningkatkannya ke skala nasional. Upaya ini bisa dilakukan secara bertahap mulai dari meningkatkan kapasitas SDM kesehatan dan laboratorium untuk pemeriksaan kadar timbal dalam darah, dan mengintegrasikan hasil pemeriksaan KTD anak ke dalam program nasional yang sudah berjalan," tambah Budi.
SKTD Tahap Pertama menunjukkan perlunya koordinasi lintas sektor yang lebih kuat, khususnya antara sektor kesehatan, lingkungan, industri, perdagangan, dan sektor terkait lainnya untuk menghasilkan kebijakan yang konkret dan berdampak dalam mengatasi paparan timbal.
"Dari hasil SKTD ini kita bisa melihat bahwa upaya pencegahan paparan timbal tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan kerja bersama lintas sektor untuk memastikan pengendalian sumber paparan timbal berjalan efektif dan berkelanjutan. Hasil SKTD ini tentunya juga diharapkan bisa mendukung penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) Indonesia Bebas Timbal yang tengah diinisiasi oleh Kemenko PMK," ucap Then.

2 weeks ago
21
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5497710/original/061297700_1770680228-JAVL7628.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5497648/original/017422100_1770644250-WhatsApp_Image_2026-02-09_at_20.08.01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5497576/original/036655400_1770636819-WhatsApp_Image_2026-02-09_at_18.15.11.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5497326/original/099111400_1770624998-purple-potato-tea-table.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495687/original/001889700_1770394174-BPJS.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5496780/original/008517100_1770603779-bpjs.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496399/original/049752800_1770531921-insinerator_yang_sempat_digunakan_dalam_pengelolaan_sampah_di_Kota_Bandung1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311619/original/015964900_1754889199-hand-holding-bowl-boiled-green-peas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4056455/original/073149600_1655476076-stephen-andrews-6NbSIxwZ3_4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5127391/original/030677700_1739170525-mufid-majnun-cM1aU42FnRg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495969/original/051449600_1770450657-Gemini_Generated_Image_jaauspjaauspjaau.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429754/original/033200800_1764643585-Kembang_Kol.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5256055/original/037675900_1750224442-medium-shot-sick-woman-home.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494736/original/072054000_1770331504-limfoma.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3167349/original/049156100_1593592165-20200701-Iuran-BPJS-Kesehatan-Resmi-Naik--ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3451004/original/011072500_1620374351-pexels-photo-708777.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079611/original/075660400_1736152693-1735888251296_ciri-ciri-flu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4993874/original/056837800_1730895197-fotor-ai-2024110619038.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3980259/original/059576700_1648689083-220331_OPINI__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406089/original/006566900_1762512009-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5161503/original/090966100_1741846958-1741840983693_penyebab-autis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423821/original/058306800_1764096334-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5032120/original/020113400_1733123995-fotor-ai-2024120214155.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5398804/original/020121200_1761897445-Abdul_Rauf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380909/original/004147800_1760438190-Ilustrasi_perundungan_di_Grobogan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405703/original/088328900_1762495927-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406988/original/070457800_1762657462-uld_pb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5369993/original/045407100_1759484291-WhatsApp_Image_2025-10-03_at_16.34.53.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293741/original/045684500_1753341485-2148817396.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403042/original/097694400_1762315278-job_fair_disabilitas_pramono_anung.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406319/original/030571500_1762537820-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5293058/original/065406200_1753281729-WhatsApp_Image_2025-07-23_at_20.48.39.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5355962/original/087526300_1758388524-Untitled.jpg)