Surati Rakyat AS, Presiden Iran: Perang Ini Sebenarnya Melayani Kepentingan Siapa?

16 hours ago 2

Liputan6.com, Teheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada publik Amerika Serikat (AS) di tengah perang Iran dengan AS dan Israel. Dalam surat tersebut, ia mengajak masyarakat AS untuk "melihat melampaui" apa yang ia sebut sebagai "mesin misinformasi" terkait perang yang sedang berlangsung.

Surat tersebut disampaikan melalui unggahan di platform media sosial X pada Rabu (1/4/2026). Seperti dikutip dari laporan The Straits Times, berikut isi surat presiden Iran selengkapnya:

Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Kepada rakyat AS, dan kepada semua pihak yang, di tengah banjir distorsi dan narasi yang direkayasa, tetap mencari kebenaran dan menginginkan kehidupan yang lebih baik:

Iran—dengan nama, karakter, dan identitasnya—merupakan salah satu peradaban tertua yang berkelanjutan dalam sejarah manusia. Terlepas dari berbagai keunggulan historis dan geografis yang dimilikinya pada berbagai masa, Iran dalam sejarah modernnya tidak pernah memilih jalan agresi, ekspansi, kolonialisme, atau dominasi.

Bahkan setelah mengalami pendudukan, invasi, dan tekanan berkelanjutan dari kekuatan global—dan meskipun memiliki keunggulan militer dibandingkan banyak negara tetangganya—Iran tidak pernah memulai perang. Namun, negara ini dengan tegas dan berani mempertahankan diri dari pihak-pihak yang menyerangnya.

Rakyat Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat AS, Eropa, maupun negara-negara tetangga. Bahkan di tengah berbagai intervensi dan tekanan asing sepanjang sejarah mereka yang panjang dan membanggakan, masyarakat Iran secara konsisten membedakan dengan jelas antara pemerintah dan rakyat yang mereka pimpin. Ini merupakan prinsip yang berakar kuat dalam budaya dan kesadaran kolektif Iran—bukan sekadar sikap politik sementara.

Karena itu, menggambarkan Iran sebagai ancaman tidak selaras dengan realitas sejarah maupun fakta yang dapat diamati saat ini. Persepsi semacam itu merupakan hasil dari kepentingan politik dan ekonomi pihak-pihak berkuasa—yakni kebutuhan untuk menciptakan musuh guna membenarkan tekanan, mempertahankan dominasi militer, menopang industri persenjataan, dan mengendalikan pasar strategis. Dalam lingkungan seperti itu, jika ancaman tidak ada, maka ia akan diciptakan.

Dalam kerangka yang sama, AS telah memusatkan jumlah terbesar pasukan, pangkalan, dan kemampuan militernya di sekitar Iran—sebuah negara yang, setidaknya sejak berdirinya AS, tidak pernah memulai perang.

Agresi AS baru-baru ini yang diluncurkan dari pangkalan-pangkalan tersebut telah menunjukkan betapa mengancamnya kehadiran militer tersebut. Secara alami, tidak ada negara yang menghadapi kondisi seperti ini akan mengabaikan penguatan kemampuan pertahanannya. Apa yang telah dan terus dilakukan Iran adalah respons terukur yang berlandaskan hak pembelaan diri yang sah, dan sama sekali bukan inisiasi perang atau agresi.

Hubungan antara Iran dan AS pada awalnya tidak bersifat permusuhan, dan interaksi awal antara rakyat Iran dan AS tidak diwarnai oleh ketegangan. Titik baliknya adalah kudeta tahun 1953—sebuah intervensi ilegal AS yang bertujuan mencegah nasionalisasi sumber daya Iran sendiri. Kudeta tersebut merusak proses demokrasi Iran, mengembalikan kediktatoran, dan menanamkan ketidakpercayaan mendalam di kalangan rakyat Iran terhadap kebijakan AS. Ketidakpercayaan ini semakin dalam dengan dukungan AS terhadap rezim shah, dukungannya kepada Saddam Hussein selama perang yang dipaksakan pada tahun 1980-an, penerapan sanksi terpanjang dan paling komprehensif dalam sejarah modern, serta pada akhirnya agresi militer yang tidak diprovokasi—dua kali—di tengah proses negosiasi terhadap Iran.

Namun, semua tekanan ini gagal melemahkan Iran. Sebaliknya, negara ini justru berkembang dalam banyak bidang: tingkat melek huruf meningkat tiga kali lipat—dari sekitar 30 persen sebelum Revolusi Islam menjadi lebih dari 90 persen saat ini; pendidikan tinggi berkembang pesat; kemajuan signifikan dicapai dalam teknologi modern; layanan kesehatan membaik; dan infrastruktur berkembang dengan kecepatan dan skala yang tak tertandingi dibanding masa lalu. Ini adalah realitas yang terukur dan dapat diamati, yang berdiri terlepas dari narasi yang direkayasa.

Pada saat yang sama, dampak destruktif dan tidak manusiawi dari sanksi, perang, dan agresi terhadap kehidupan rakyat Iran yang tangguh tidak boleh diremehkan. Kelanjutan agresi militer dan pengeboman baru-baru ini sangat memengaruhi kehidupan, sikap, dan pandangan masyarakat. Hal ini mencerminkan kebenaran mendasar tentang manusia: ketika perang menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada kehidupan, rumah, kota, dan masa depan, orang tidak akan bersikap acuh terhadap pihak yang bertanggung jawab.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: kepentingan rakyat AS yang mana sebenarnya yang dilayani oleh perang ini? Apakah benar ada ancaman nyata dari Iran yang dapat membenarkan tindakan tersebut? Apakah pembantaian anak-anak tak berdosa, penghancuran fasilitas farmasi untuk pengobatan kanker, atau bahkan kebanggaan atas pengeboman sebuah negara hingga "kembali ke zaman batu" memiliki tujuan lain selain semakin merusak citra global AS?

Iran telah menempuh jalur negosiasi, mencapai kesepakatan, dan memenuhi seluruh komitmennya. Keputusan untuk menarik diri dari kesepakatan tersebut, meningkatkan konfrontasi, dan melancarkan dua tindakan agresi di tengah negosiasi merupakan pilihan yang merusak yang dibuat oleh pemerintah AS—pilihan yang melayani ilusi agresor asing.

Serangan terhadap infrastruktur vital Iran—termasuk fasilitas energi dan industri—secara langsung menargetkan rakyat Iran. Selain merupakan kejahatan perang, tindakan semacam ini membawa konsekuensi yang melampaui batas Iran. Ia menciptakan ketidakstabilan, meningkatkan biaya kemanusiaan dan ekonomi, serta memperpanjang siklus ketegangan dengan menanam benih kebencian yang akan bertahan bertahun-tahun. Ini bukanlah tanda kekuatan; ini adalah tanda kebingungan strategis dan ketidakmampuan mencapai solusi yang berkelanjutan.

Bukankah juga benar bahwa AS telah masuk dalam agresi ini sebagai perpanjangan tangan Israel, dipengaruhi dan dimanipulasi oleh rezim tersebut? Bukankah benar bahwa Israel, dengan menciptakan ancaman Iran, berusaha mengalihkan perhatian dunia dari kejahatannya terhadap rakyat Palestina? Bukankah jelas bahwa Israel kini ingin memerangi Iran hingga prajurit Amerika terakhir dan dolar pajak AS terakhir—memindahkan beban ilusi mereka kepada Iran, kawasan, dan AS  sendiri demi kepentingan yang tidak sah?

Apakah "America First" benar-benar menjadi prioritas pemerintah AS saat ini?

Saya mengajak Anda untuk melihat melampaui mesin disinformasi—bagian integral dari agresi ini—dan berbicara langsung dengan mereka yang pernah mengunjungi Iran. Amati banyaknya imigran Iran yang berprestasi—dididik di Iran—yang kini mengajar dan melakukan penelitian di universitas-universitas paling bergengsi di dunia, atau berkontribusi pada perusahaan teknologi paling maju di Barat. Apakah realitas ini selaras dengan gambaran yang dipelintir tentang Iran dan rakyatnya yang selama ini Anda dengar?

Hari ini, dunia berada di persimpangan jalan. Melanjutkan jalur konfrontasi semakin mahal dan sia-sia. Pilihan antara konfrontasi dan keterlibatan adalah nyata dan menentukan; hasilnya akan membentuk masa depan generasi yang akan datang. Sepanjang sejarahnya yang panjang dan membanggakan, Iran telah bertahan melewati banyak agresor. Yang tersisa dari mereka hanyalah nama-nama yang tercemar dalam sejarah, sementara Iran tetap berdiri—tangguh, bermartabat, dan bangga.

Read Entire Article