Wapres AS: Kesepakatan Damai dengan Iran Sudah Dekat, tapi Belum Final

10 hours ago 2

Sejak gencatan senjata awal antara AS dan Iran mulai berlaku pada 8 April, Trump berulang kali menyatakan bahwa kedua pihak semakin dekat menuju kesepakatan dan bahwa negosiasi terus menunjukkan kemajuan. Namun hingga kini belum ada terobosan berarti yang dihasilkan.

Trump menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengakhiri perang, termasuk dari negara-negara sekutu di kawasan Teluk, kalangan Demokrat yang menentang perang tersebut, serta sejumlah anggota Partai Republik di Kongres yang menyuarakan kekhawatiran mengenai lamanya perang berlangsung.

Laporan yang saling bertentangan pada Kamis mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan kembali menunjukkan bahwa proses negosiasi masih sangat cair.

Kedua negara saling membantah klaim masing-masing dan hanya memberikan sedikit rincian mengenai proposal yang dilaporkan tersebut, sehingga kembali memunculkan pertanyaan tentang seberapa dekat mereka sebenarnya dengan berakhirnya permusuhan.

Trump dan sejumlah pejabat lainnya telah memperingatkan bahwa "opsi B" — yakni kembali ke operasi tempur — masih tetap berada di atas meja.

Sementara itu, perpanjangan gencatan senjata akan memberikan waktu bagi tim AS dan Iran untuk membahas persoalan yang jauh lebih rumit dan teknis, terutama terkait program nuklir Iran dan sisa stok uranium yang diperkaya hingga tingkat tinggi.

Trump sebelumnya menyatakan bahwa AS dapat mengambil stok tersebut atau, bersama Iran, mengencerkannya di lokasi saat ini maupun di lokasi ketiga.

Laporan menyebutkan bahwa kesepakatan yang sedang dibahas dapat memungkinkan pelayaran "tanpa hambatan" melalui Selat Hormuz. Iran disebut pula akan diberi waktu 30 hari untuk membersihkan ranjau dari jalur pelayaran sempit tersebut.

AS juga akan mencabut blokadenya dan memberikan pengecualian sanksi yang memungkinkan Iran kembali menjual minyak.

Axios, media yang pertama kali melaporkan adanya kesepakatan sementara antara AS dan Iran pada Kamis, menyebut Trump telah menerima penjelasan mengenai proposal tersebut, tetapi belum langsung memberikan persetujuan dan akan meluangkan beberapa hari untuk mempertimbangkannya.

Pada Rabu, media pemerintah Iran melaporkan sejumlah poin dari apa yang mereka sebut sebagai rancangan tidak resmi memorandum kesepahaman 14 poin antara kedua negara.

Laporan tersebut mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, penarikan pasukan AS dari "wilayah sekitar Iran", serta pemulihan lalu lintas nonmiliter melalui Selat Hormuz dengan Iran dan Oman mengendalikan pengelolaan serta pengaturan jalur pelayaran.

Gedung Putih menyebut rancangan memorandum tersebut sebagai "rekayasa sepenuhnya".

Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya melintasi Selat Hormuz, dan penutupannya telah berdampak pada perdagangan energi global.

Dalam pengarahan pers Gedung Putih pada Kamis, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menolak mengonfirmasi bahwa kesepakatan telah tercapai.

"Selalu merupakan kesalahan untuk mendahului keputusan presiden," ujarnya. "Dan semuanya akan menjadi keputusan presiden."

Saat ditanya apakah kesepakatan damai nantinya akan mencakup "rekonstruksi" bagi Iran, ia menjawab, "Kita harus mencapai kesepakatan terlebih dahulu sebelum membahas hal lainnya."

Sementara itu, baik Iran maupun AS saling menuduh telah melanggar gencatan senjata yang rapuh dalam beberapa hari terakhir.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menargetkan sebuah pangkalan militer AS di kawasan tersebut pada Kamis, setelah serangan baru AS ke wilayah selatan Iran pada malam sebelumnya.

Media pemerintah Iran melaporkan pada Kamis bahwa pasukan negara itu telah menembak jatuh sebuah pesawat milik AS yang kemungkinan merupakan pesawat nirawak atau drone.

Namun, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) membantah laporan tersebut dan menyatakan melalui media sosial, "Tidak ada pesawat AS yang ditembak jatuh. Seluruh aset udara AS dalam keadaan lengkap dan terkonfirmasi keberadaannya."

Read Entire Article