Situasi Lebanon Ikut Menentukan Nasib Kesepakatan Iran-AS

19 hours ago 8

Liputan6.com, Beirut - Masuknya klausul terkait Lebanon dalam nota kesepahaman (MoU) Islamabad yang disepakati oleh Iran dan Amerika Serikat (AS) pada Rabu, 17 Juni 2026, menegaskan kembali posisi strategis negara tersebut bagi Teheran. Klausul ini mewajibkan penghentian segera seluruh operasi militer di semua front, termasuk Lebanon, serta memberikan tenggat waktu maksimal 60 hari bagi kedua pihak untuk merundingkan perjanjian final.

Meski tidak berbatasan langsung, Iran telah menginvestasikan sumber daya politik, finansial, dan militer yang besar di Lebanon selama lebih dari empat dekade. Kepentingan itu terutama bertumpu pada hubungan erat Iran dengan Hizbullah, kelompok yang menjadi salah satu instrumen utama pengaruh Teheran di Timur Tengah.

Mengutip tulisan analis Timur Tengah Gil Feiler yang dipublikasikan albawaba, hubungan antara Iran dan Lebanon berakar pada periode setelah Revolusi Iran 1979. Saat itu, kepemimpinan baru Iran berupaya menyebarkan ideologi revolusionernya sekaligus membangun aliansi dengan kelompok-kelompok yang memiliki kesamaan pandangan dalam menentang pengaruh Barat dan kekuatan Israel.

Di tengah Perang Saudara Lebanon serta setelah invasi Israel ke negara itu pada 1982, Iran membantu membentuk dan memperkuat Hizbullah. Seiring berjalannya waktu, kelompok tersebut berkembang dari sebuah gerakan militan kecil menjadi kekuatan politik dan militer yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan politik Lebanon.

"Bagi Iran, Hizbullah memiliki nilai strategis yang sangat penting. Salah satu alasan utamanya adalah kemampuan kelompok tersebut menjadi alat penangkal terhadap Israel. Hizbullah memiliki persenjataan roket dan rudal dalam jumlah besar yang mampu menjangkau wilayah Israel hingga jauh ke pedalaman. Kemampuan ini dipandang para pembuat kebijakan di Teheran sebagai bagian penting dari strategi keamanan nasional Iran. Dalam skenario terjadinya konfrontasi langsung antara Iran dan Israel, keberadaan Hizbullah dapat membuka front tambahan yang mempersulit perencanaan militer Israel sekaligus meningkatkan biaya yang harus ditanggung dalam konflik," tulis Feiler.

Selain itu, Lebanon memberikan Iran akses pengaruh hingga pesisir Laut Mediterania.

Secara geografis, sebut Feiler, Iran terpisah dari kawasan Mediterania oleh sejumlah negara, termasuk Irak dan Suriah. Melalui jaringan aliansi dengan pemerintah maupun kelompok non-negara di sepanjang koridor tersebut, Iran berupaya membangun apa yang oleh banyak analis disebut sebagai "jembatan darat" yang membentang dari wilayahnya hingga ke Laut Mediterania. Dalam konteks ini, Lebanon menjadi titik paling barat dari jaringan strategis tersebut sehingga memiliki arti simbolis sekaligus kepentingan praktis yang besar bagi Teheran.

Kehadiran Iran di Lebanon juga berkontribusi pada peningkatan prestise regionalnya. Pemerintah Iran kerap menggambarkan dukungannya terhadap Hizbullah sebagai bukti komitmen terhadap perjuangan Palestina dan perlawanan terhadap Israel. Narasi tersebut membantu Iran memperluas pengaruh politiknya di kawasan sekaligus memperoleh dukungan dari sejumlah gerakan politik di Timur Tengah.

"Meskipun banyak negara Arab mengkritik aktivitas regional Iran, Teheran tetap memandang keberadaannya di Lebanon sebagai bukti kemampuannya memengaruhi dinamika politik dan keamanan kawasan," beber Feiler.

Di dalam negeri, hubungan dengan Hizbullah juga memiliki nilai politik tersendiri. Para pemimpin Iran sering menampilkan keberhasilan kelompok tersebut sebagai bukti bahwa model revolusioner Iran mampu melahirkan sekutu yang kuat di luar negeri. Bagi sebagian pendukung Republik Islam Iran, hal itu memperkuat keyakinan bahwa negara tersebut layak memainkan peran kepemimpinan di dunia muslim.

Read Entire Article