Ada Monumen Mengenang Kakak PM Israel di Uganda, Berikut Kisahnya

16 hours ago 6

Liputan6.com, Kampala - Uganda pada Sabtu (1/8/2026) meresmikan monumen Yonatan Netanyahu, kakak Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, yang tewas dalam operasi penyelamatan sandera di Entebbe 50 tahun lalu.

Seperti dilaporkan BBC, Panglima Angkatan Pertahanan Rakyat Uganda Jenderal Muhoozi Kainerugaba yang merupakan putra dari Presiden Yoweri Museveni mengatakan, monumen itu didirikan untuk mengenang keberanian dan pengabdian Yonatan Netanyahu.

Yonatan Netanyahu merupakan satu-satunya anggota pasukan Israel yang tewas dalam operasi tersebut. Misi itu berhasil menyelamatkan lebih dari 100 sandera setelah dua warga Palestina dan dua warga Jerman membajak pesawat Air France yang berangkat dari Tel Aviv, lalu memaksanya terbang ke bandara internasional Uganda.

Kainerugaba menyebut operasi tersebut sebagai salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah modern. Ia menggambarkan perjalanan hubungan Uganda dan Israel hingga menjadi dekat seperti sekarang sebagai sesuatu yang luar biasa.

Monumen itu berdiri di luar terminal lama bandara yang menjadi lokasi operasi penyelamatan. Yonatan Netanyahu digambarkan sedang melangkah maju sambil memegang senapan mesin.

Tiga sandera, yakni Jean-Jacques Mimouni, Pasco Cohen, dan Ida Borochovitch, tewas dalam operasi tersebut.

Dora Bloch, sandera lain yang sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Kampala, kemudian dibawa paksa dan dibunuh oleh aparat Uganda. Pembunuhan itu diyakini sebagai aksi balasan atas operasi penyelamatan Israel di Entebbe.

"Semoga kenangan tentang mereka terus menginspirasi generasi mendatang dalam memperjuangkan perdamaian, keadilan, dan martabat manusia," kata Kainerugaba.

Para pembajak dan tiga orang yang bergabung membantu mereka di Uganda juga tewas dalam baku tembak dengan pasukan Israel. Sedikitnya 45 tentara Uganda turut tewas dalam pertempuran itu.

Mengenang para tentara Uganda yang tewas, Kainerugaba mengatakan mereka telah berjuang dengan gagah berani demi tujuan yang mereka yakini benar.

"Tentu saja, kini kita mengetahui bahwa pemerintahan Idi Amin yang mereka layani merupakan rezim diktator brutal yang tidak mewakili rakyat Uganda," ujarnya.

Pesawat tujuan Paris itu lepas landas dari Tel Aviv pada 27 Juni 1976 dan sempat singgah di Athena. Para pembajak yang berasal dari Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina naik ke pesawat saat pesawat tersebut berada di ibu kota Yunani itu.

Mereka kemudian mengambil alih pesawat dan memaksa pilot mengalihkannya ke Libya untuk mengisi bahan bakar. Pesawat Airbus A300 tersebut lalu diterbangkan ke Uganda dan disambut Idi Amin ketika mendarat.

Para pembajak menuntut uang sebesar 5 juta dollar AS dan pembebasan 53 militan yang dipenjara di Israel, Perancis, Jerman, Swiss, dan Kenya sebagai syarat untuk membebaskan para sandera.

Sebagian sandera dibebaskan pada 30 Juni dan 1 Juli. Namun, warga Israel dan orang-orang Yahudi tetap ditahan.

Pada 3 Juli, pasukan komando elite yang terbang dari Israel melalui Kenya mendarat di Entebbe dan melancarkan operasi penyelamatan yang berlangsung kurang dari 90 menit.

Misi tersebut dirayakan di Israel, tetapi menjadi penghinaan besar bagi Idi Amin.

PM Benjamin Netanyahu sendiri mengunjungi Entebbe satu dekade lalu. Dalam kunjungan itu, ia mengatakan, "Saya belajar dari kakak saya bahwa untuk mengalahkan teroris, diperlukan dua hal: kejelasan dan keberanian."

Kainerugaba menyebut peristiwa yang terjadi setengah abad lalu itu sebagai babak menyakitkan dalam sejarah negaranya.

Namun, ia mengatakan hubungan Uganda dan Israel kini telah berkembang menjadi kemitraan yang dilandasi rasa saling percaya, saling menghormati, dan kerja sama.

Read Entire Article