50 Tahun Hubungan Indonesia-Suriname Diwarnai Penandatanganan MoU UGM-AdeKUS

19 hours ago 6

Liputan6.com, Paramaribo - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paramaribo bersama Anton de Kom Universiteit van Suriname (AdeKUS) menggelar kuliah umum untuk memperingati 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Suriname, Kamis (30/7/2026).

Kuliah umum bertema "From Historical Ties to a Strategic Partnership: 50 Years of Cooperation between Suriname and Indonesia" itu berlangsung di Aula I.G.S.R. AdeKUS dengan menghadirkan Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) Agus Priono sebagai pembicara.

Selain membahas perjalanan hubungan kedua negara selama setengah abad, kegiatan tersebut juga diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara AdeKUS dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Rektor AdeKUS Virginia Asin-Oostburg serta disaksikan Dubes Agus dan Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Alam.

Kesepakatan tersebut menjadi dasar bagi kerja sama akademik antara Indonesia dan Suriname pada masa mendatang, termasuk program pertukaran mahasiswa dan dosen serta penelitian bersama. Kerja sama itu menunjukkan bahwa hubungan bilateral kedua negara dapat memberikan manfaat nyata bagi generasi muda Indonesia dan Suriname.

Dalam kuliah umum tersebut, Dubes Agus menjelaskan perkembangan kerja sama bilateral Indonesia dan Suriname. Ia menyampaikan bahwa kerja sama di bidang budaya dan politik telah menjadi pengikat kedua negara selama 50 tahun terakhir.

Dubes Agus menyoroti pula peran diaspora Jawa di Suriname dalam membangun ikatan yang unik antara kedua negara. Warisan bersama tersebut kemudian berkembang menjadi hubungan diplomatik dan ekonomi modern yang kuat.

"Kedutaan Besar Indonesia berkomitmen untuk menyambut inisiatif kerja sama di berbagai sektor. Saya dan Kedutaan akan mempromosikan kerja sama bilateral terutama dalam pengembangan ekonomi dan pelestarian budaya. Ada banyak potensi dan peluang yang bisa kita tingkatkan bersama," ujar Dubes Agus.

Sementara itu, Virginia mengatakan Suriname memiliki banyak potensi yang patut dibanggakan oleh masyarakatnya. Menurut dia, setiap negara memiliki keunggulan yang dapat ditawarkan dalam kerja sama dengan negara lain.

"Setiap negara punya kualitasnya sendiri untuk ditawarkan. Tidak ada satu negara pun yang bisa menyelesaikan semua persoalan sendirian. Penandatanganan MoU antara AdeKUS dan Universitas Gadjah Mada ini telah menunjukkan bagaimana diplomasi dan akademisi bisa bekerja sama untuk membangun dunia yang lebih baik melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan," kata Virginia.

Dalam bidang pendidikan, Pemerintah Indonesia telah mendukung upaya pembangunan Suriname melalui berbagai program beasiswa. Dubes Agus mengatakan terdapat empat skema beasiswa yang ditawarkan Pemerintah Indonesia kepada pelajar Suriname.

Skema tersebut terdiri atas beasiswa bergelar dan non-gelar, serta beasiswa dengan pembiayaan penuh dan sebagian. Keempatnya adalah Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB), Indonesian AID Scholarship (TIAS), Darmasiswa, serta Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (IACS).

Kuliah umum itu turut dihadiri Marciano Dasai, tokoh Suriname yang merupakan alumnus UGM. Marciano pernah menempuh pendidikan magister di UGM dengan beasiswa dari Pemerintah Indonesia.

Ia diundang secara khusus oleh AdeKUS untuk memberikan pidato motivasi kepada para mahasiswa. Dalam pidatonya, Marciano menceritakan perjalanan pribadi serta pengalaman yang mengubah hidupnya selama tinggal dan belajar di Indonesia.

Marciano menekankan bahwa pendidikan internasional dapat membangun jembatan yang memberikan manfaat sepanjang hidup. Ia juga mendorong mahasiswa Suriname untuk memanfaatkan kesempatan akademik serupa dan mengajak mahasiswa AdeKUS berani bermimpi besar.

"Fokuslah pada impian-impianmu, temukan mentor untuk membimbingmu mencapai tujuan, dan berusahalah sebaik mungkin untuk mencapainya," ungkap Marciano saat mengenang pengalamannya belajar di UGM.

Kegiatan tersebut ditutup dengan pemutaran film komedi Indonesia berjudul GJLS Ibuku Ibu Ibu. Pemutaran film itu memberikan gambaran lebih jauh kepada peserta mengenai masyarakat, nilai, dan seni kontemporer Indonesia.

Melalui perpaduan diskusi akademik dan pengalaman budaya tersebut, para peserta memperoleh pemahaman mengenai kedekatan, kehangatan, dan potensi masa depan hubungan Indonesia-Suriname.

Kuliah umum itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang disiapkan untuk memperingati 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Suriname.

Selain mahasiswa, akademisi, dan staf AdeKUS, kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan kementerian Suriname yang membidangi urusan luar negeri, bisnis internasional, dan kerja sama.

Read Entire Article