Sempat Dilarang, Pemimpin Gereja Katolik Yerusalem Kini Diizinkan Masuk Gereja Makam Kudus

13 hours ago 4

Liputan6.com, Yerusalem - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Patriark Latin Yerusalem, pemimpin Gereja Katolik di Tanah Suci, kini akan mendapatkan akses penuh dan segera ke Gereja Makam Kudus, setelah sebelumnya pihak kepolisian mencegahnya menggelar Misa Minggu Palma di lokasi tersebut.

Netanyahu menjelaskan bahwa Kardinal Pierbattista Pizzaballa, yang merupakan pemimpin Gereja Katolik di Tanah Suci, sebelumnya diminta untuk tidak memasuki gereja karena alasan keamanan. Ia menyebut Iran telah berulang kali menargetkan situs-situs suci di Yerusalem dengan serangan rudal balistik.

Duta Besar Amerika Serikat (Dubes AS) untuk Israel Mike Huckabee menyebut langkah tersebut sebagai tindakan berlebihan yang tidak menguntungkan dan sulit dipahami atau dibenarkan.

Kardinal Pizzaballa bersama Pastor Francesco Ielpo, menurut otoritas gereja, dihentikan di luar gereja yang diyakini sebagai lokasi penyaliban Yesus Kristus, saat mereka hendak memimpin Misa untuk menandai awal Pekan Suci.

Kantor Kardinal Pizzaballa menyatakan bahwa ini adalah pertama kalinya dalam berabad-abad seorang Patriark Latin ditolak masuk ke situs suci tersebut pada Minggu Palma, yang memperingati kedatangan Yesus ke Yerusalem.

Mereka menyebut kardinal dan Pastor Ielpo "dipaksa" untuk berbalik dari gereja yang juga diyakini sebagai tempat pemakaman dan kebangkitan Yesus.

Dalam pernyataannya, pihak patriarkat menyebut insiden ini sebagai preseden serius yang mengabaikan perasaan miliaran umat di seluruh dunia yang memandang Yerusalem selama pekan suci ini.

"Mereka telah mengambil keputusan tergesa-gesa dan pada dasarnya keliru, dipengaruhi oleh pertimbangan yang tidak tepat, serta merupakan penyimpangan ekstrem dari prinsip dasar kewajaran, kebebasan beribadah, dan penghormatan terhadap status quo," demikian isi pernyataan tersebut seperti dikutip dari BBC.

Patriarkat menegaskan bahwa mereka telah mematuhi semua pembatasan yang diberlakukan sejak perang dimulai dan menyebut keputusan pada Minggu (29/3) itu sebagai tindakan yang tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional.

Kardinal Pizzaballa kemudian menyatakan bahwa dirinya tidak ingin memaksakan situasi, namun menegaskan bahwa mereka hanya meminta sebuah upacara kecil dan singkat secara privat.

"Kami ingin menggunakan situasi ini untuk memperjelas langkah ke depan, dengan tetap menghormati keselamatan semua pihak sekaligus hak untuk berdoa," ujarnya.

Netanyahu menjelaskan bahwa seluruh umat dari berbagai agama telah diminta untuk tidak mengunjungi situs-situs di Kota Tua Yerusalem karena wilayah tersebut menjadi sasaran serangan Iran. Ia menegaskan bahwa polisi bertindak karena adanya kekhawatiran keamanan khusus.

Prosesi tradisional Minggu Palma menuju kota tersebut sebelumnya dibatalkan akibat pembatasan terhadap kerumunan publik.

Polisi Israel menyatakan bahwa semua situs suci di Kota Tua telah ditutup bagi para peziarah sejak dimulainya perang antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari, dan permintaan pengecualian untuk Minggu Palma dari pihak patriarkat telah ditolak.

Netanyahu mengatakan bahwa situs-situs suci milik umat Kristen, Yahudi, dan Muslim telah berulang kali menjadi sasaran serangan rudal Iran dalam beberapa hari terakhir.

Ia menambahkan bahwa dalam salah satu serangan, pecahan rudal jatuh hanya beberapa meter dari Gereja Makam Kudus. Netanyahu mengaku bahwa keputusan pihaknya tidak memiliki niat buruk. Ia menyebut pula bahwa pemerintah sedang menyusun rencana agar para pemimpin gereja dapat beribadah di lokasi tersebut dalam beberapa hari ke depan.

Kemudian, pada Minggu malam, Netanyahu mengumumkan bahwa ia telah menginstruksikan otoritas terkait untuk memberikan akses penuh dan segera kepada Patriark Latin ke Gereja Makam Kudus, sehingga ia dapat mengadakan ibadah sesuai keinginannya.

Read Entire Article