Liputan6.com, Teheran - Lautan berkelok yang dipenuhi pulau-pulau; garis pantai sepanjang ratusan kilometer yang dipagari tebing-tebing curam; serta pegunungan yang menjulang seolah mengintimidasi musuh yang mencoba mendekat. Ini adalah gambaran bentang alam Iran.
Dengan kondisi geografis seperti itu, tidak mengherankan jika para pakar militer dan politik menilai bahwa operasi darat akan menimbulkan biaya yang sangat besar bagi Amerika Serikat (AS).
Iran merupakan negara yang sangat luas. Negara ini memiliki dua rangkaian pegunungan panjang, Laut Kaspia di utara, serta Laut Oman dan Teluk di selatan.
"Jika Anda melihat sejarah serangan militer seperti ini (invasi darat), Anda akan melihat bahwa secara umum, begitu serangan darat dimulai, sangat sulit untuk dikendalikan," kata Arman Mahmoudian, peneliti di Global and National Security Institute, University of South Florida, kepada Middle East Eye.
Para ahli Iran yang berbicara kepada Middle East Eye menunjuk pada tiga skenario utama jika perang darat dimulai: pendudukan pulau-pulau Iran di Teluk Persia dan Selat Hormuz, serangan ke pantai selatan Iran, atau invasi melalui wilayah barat Iran yang dihuni oleh etnis Kurdi.
Masing-masing skenario tersebut memiliki risiko dan tantangan serius.
Pendudukan Pulau-pulau dan Penguasaan Selat Hormuz
Lebih dari serangan rudal dan drone Iran, tekanan terbesar terhadap Presiden Donald Trump dan Kementerian Pertahanan AS berasal dari penutupan Selat Hormuz. Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak—sekitar seperlima konsumsi global—melewati selat ini setiap hari. Namun sejak konflik dimulai, Iran menargetkan kapal-kapal yang melintas dan secara efektif menutup jalur tersebut, hanya mengizinkan sejumlah kecil tanker dari negara "bersahabat" untuk lewat dalam beberapa hari terakhir.
Sejumlah laporan menyebut Iran memungut hingga 2 juta dolar dari kapal tertentu sebagai biaya jaminan keamanan untuk melintas. Posisi Iran dalam menguasai Selat Hormuz telah mendorong harga minyak dan gas global naik, menambah tekanan bagi AS untuk membuka kembali jalur tersebut.
Sebagai tanggapan, AS menyerang fasilitas militer di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran yang terletak sekitar 32 km dari pantai Iran. Serangan ini memicu spekulasi bahwa Washington mungkin akan mencoba merebut Kharg, sebuah gagasan yang pernah disampaikan Trump dalam wawancara tahun 1988 dengan The Guardian.
Namun para analis mengatakan langkah tersebut tidak akan memberikan banyak keuntungan dan bahkan bisa menjadi bumerang. Mahmoudian mengatakan bahwa jika AS mencoba merebut Kharg, Iran mungkin tidak akan melawan di pulau itu.
"Iran tidak punya alasan untuk bertempur dengan AS di pulau tersebut karena tidak punya peluang menang. Sebaliknya, mereka mungkin membiarkan AS mengambil alih pulau itu dan kemudian menyerang mereka di sana," ujarnya.
"Masalah yang sama juga berlaku untuk pulau-pulau di Selat Hormuz seperti Qeshm, Hormuz, dan Larak. Setiap operasi AS di sana akan menghadapi persoalan yang sama."
Pandangan tersebut diakui oleh Farzin Nadimi, seorang analis di Washington Institute for Near East Policy yang dikenal bersikap keras terhadap Iran dan pro-Israel. Dalam wawancara dengan podcaster Iran Bozorgmehr Sharafedin, ia mengatakan, "Pendudukan militer atas Kharg tidak praktis maupun logis. Bahkan jika pulau-pulau Iran berhasil direbut, akan sangat sulit untuk mempertahankannya."
Para ahli memperingatkan bahwa perebutan Kharg justru akan mendorong harga minyak semakin tinggi.
Alex Vatanka dari Middle East Institute mengatakan bahwa menghentikan ekspor minyak Iran sekitar 1,5 juta barel per hari akan kembali mendorong kenaikan harga global.
Selain Kharg, Iran memiliki 42 pulau di wilayah selatan, terdiri dari 18 pulau berpenghuni dan 24 tidak berpenghuni. Pulau terbesar adalah Qeshm, dengan luas sekitar 1.500 km persegi, bahkan lebih besar dari negara seperti Bahrain dan Singapura, dan hanya berjarak 2 km dari daratan utama Iran.
Tiga pulau lain—Greater Tunb, Lesser Tunb, dan Abu Musa—sangat sensitif karena juga diklaim oleh Uni Emirat Arab (UEA). Hal ini membuka kemungkinan AS merebutnya dan menyerahkannya kepada UEA. Namun Vatanka memperingatkan bahwa langkah ini dapat menimbulkan konflik jangka panjang.
"Dalam jangka panjang, itu akan menjadi titik ketegangan dan konflik dengan Iran selama beberapa dekade," katanya.
Baik Vatanka maupun Mahmoudian menilai bahwa jika AS merebut pulau-pulau tersebut, tujuannya kemungkinan bersifat politis, yakni untuk mendapatkan posisi tawar dalam negosiasi dan memaksa Iran memberikan konsesi.
Sumber senior Iran sebelumnya menyatakan pula bahwa Iran akan merespons invasi darat dengan menyerang UEA secara besar-besaran karena dianggap terlibat dalam perang.
Pendudukan Garis Pantai Selatan
Garis pantai selatan Iran membentang dari dekat Abadan, di perbatasan dengan Irak, sejauh lebih dari 1.800 km hingga ke Teluk Gavater, dekat perbatasannya dengan Pakistan.
Garis pantai ini melintasi Provinsi Khuzestan, Bushehr, Hormozgan, serta Sistan dan Baluchestan, mencakup pesisir utara Teluk, Selat Hormuz, dan Laut Oman.
Panjang garis pantai ini dapat menyulitkan Iran untuk mempertahankan setiap titik dari serangan darat. Namun, hal yang sama menjadi tantangan bagi pihak mana pun yang melakukan invasi.
Mahmoudian menyatakan bahwa jika AS melanjutkan invasi darat hingga ke daratan Iran, pasukan AS kemungkinan akan menjadikan wilayah pantai sebagai target utama untuk memperkuat kendali atas Selat Hormuz, terutama karena pantai selatan Iran dekat dengan pangkalan AS di seberang Teluk.
"Dalam serangan darat, pasukan penyerang perlu berada dekat dengan pangkalannya untuk logistik, mendatangkan pasukan baru, serta memindahkan korban dari garis depan," ujar Mahmoudian.
Ia mencatat bahwa keunggulan kekuatan laut AS di kawasan tersebut menambah kemungkinan ini.
"Angkatan Laut AS kini dominan di Teluk Persia dan pasukan yang dikerahkan adalah marinir yang terlatih untuk operasi amfibi," ungkap Mahmoudian.
Meski demikian, Mahmoudian memperingatkan bahwa bahkan operasi terbatas di wilayah pantai dapat dengan cepat berkembang di luar kendali.
"Misalkan tujuan Anda adalah menguasai sebagian pantai Iran di dekat Selat Hormuz. Anda mungkin dapat merebut garis pantai tersebut, tetapi pasukan Anda akan terus berada di bawah serangan," katanya.
"Untuk melindungi mereka dan membangun posisi pertahanan, Anda perlu mendorong lebih jauh ke daratan. Pada titik itu, mengendalikan eskalasi menjadi sangat sulit."
Dalam skenario seperti ini, ukuran wilayah Iran kembali menjadi faktor utama.
Nadimi mencatat bahwa Iran memanfaatkan kondisi geografisnya untuk tetap melancarkan serangan, meskipun telah berminggu-minggu menghadapi serangan dari AS dan Israel. Peluncur rudalnya tersebar di berbagai wilayah, sementara drone dan senjata lainnya disimpan di fasilitas bawah tanah.
"Iran masih menembakkan rudal berbahan bakar cair," katanya. "Rudal jenis ini membutuhkan peluncur besar yang harus disiapkan di ruang terbuka, dan Iran dapat melakukannya karena wilayahnya sangat luas."
Iran mencakup lebih dari 1,4 juta kilometer persegi, menjadikannya negara terbesar ke-17 di dunia. Negara ini juga memiliki dua gurun besar, Dasht-e Kavir dan Gurun Lut, lebih dari 390 gunung dengan ketinggian di atas 2.000 meter, termasuk 92 yang lebih tinggi dari 4.000 meter. Puncak tertinggi di Timur Tengah, Gunung Damavand, yang menjulang sekitar 5.700 meter, juga berada di Iran.
Vatanka mengatakan bahwa kondisi geografis ini akan menguntungkan Iran dalam perang darat, dengan membandingkannya dengan invasi AS ke Irak pada 2003.
"Iran sekitar empat kali lebih besar daripada Irak, yang berarti target-targetnya tersebar di area yang jauh lebih luas," ujarnya.
"Negara ini bergunung-gunung, dan kita tahu rezim Iran telah menghabiskan bertahun-tahun menempatkan aset militernya di bawah tanah. Selain itu, Iran telah lama mempersiapkan skenario seperti ini dan jauh lebih mampu menghadapinya dibandingkan Saddam Hussein pada 2003."
Situs nuklir Iran, yang menjadi target utama Israel dan AS, juga terkubur di bawah pegunungan, sulit dijangkau dan mudah dipertahankan.
Serangan dari Wilayah Kurdi
Skenario lain yang mungkin untuk serangan darat terhadap Iran adalah dari arah barat, melalui pegunungan Zagros dan wilayah Kurdi di dekat perbatasan dengan Irak dan Turki.
Sejak awal perang AS–Israel, beberapa pihak mengusulkan bahwa kelompok bersenjata Kurdi Iran yang berbasis di Irak dapat digunakan sebagai pasukan darat dalam skenario tersebut.
Sejauh ini, kelompok-kelompok ini menghindari keterlibatan langsung. Namun, dalam sebuah konferensi daring di Tel Aviv University pada 19 Maret, para komandan Kurdistan Free Life Party (PJAK) dan Kurdistan Freedom Party (PAK) menyatakan ketertarikan untuk bekerja sama dengan Israel.
Meski demikian, para ahli menilai skenario ini kecil kemungkinannya menghasilkan hasil yang diinginkan Washington.
Menurut Mahmoudian, dalam skenario ini, AS akan memberikan dukungan udara sementara pasukan Kurdi menjalankan operasi darat.
"AS kemungkinan besar akan mengirim pasukan Kurdi terlebih dahulu karena mereka mengenal medan," jelasnya. "Mereka akan melakukan bagian tersulit—bertarung di medan yang sulit dan melintasi pegunungan Zagros—sementara pasukan AS mengikuti di belakang."
Mahmoudian memperingatkan bahwa strategi semacam ini akan menimbulkan biaya besar bagi para pejuang Kurdi, mengingat kuatnya kehadiran militer Iran di kawasan tersebut.
Bulan lalu, Middle East Eye melaporkan bahwa Iran telah memindahkan sejumlah besar pasukan ke wilayah itu dengan kedok latihan militer, sebagai persiapan menghadapi skenario seperti ini.
Vatanka juga meragukan bahwa kelompok Kurdi mampu mempertahankan operasi semacam itu, mengingat banyak dari mereka hanya bersenjata ringan dan tidak memiliki unit besar.
"Mereka bisa mengandalkan perlindungan udara dari AS dan Israel, tetapi mereka harus siap menerima kerugian besar," terangnya. "Semakin mereka masuk ke wilayah mayoritas Persia di luar kawasan Kurdi, situasinya akan semakin sulit."
"Saya tidak melihat pasukan Kurdi Iran bergerak dari Irak ke Iran dan maju hingga ke Teheran. Mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan tersebut."
Apa strategi AS?
Strategi dan tujuan AS dalam perang ini masih belum jelas.
Jika tujuannya adalah mengganti kepemimpinan Iran, seperti yang disampaikan AS dan Israel saat memulai perang pada 28 Februari maka berminggu-minggu serangan udara serta pembunuhan banyak tokoh militer dan politik belum mengguncang struktur kekuasaan negara tersebut.
Jika tujuannya adalah meningkatkan tekanan dan mendorong Teheran untuk berunding, sejauh ini hanya sedikit bukti bahwa upaya tersebut berhasil dan justru mungkin membuat kepemimpinan Iran menjadi lebih keras dan tegas.
Para ahli juga memperingatkan bahwa setiap bentuk pendudukan, kemungkinan besar justru akan memperkuat nasionalisme Iran.
Secara historis, Iran menunjukkan bahwa mereka tidak akan berunding di bawah kondisi pendudukan.
Mahmoudian menunjuk pada Perang Iran-Irak, ketika Irak merebut beberapa kota kecil, menguasai pelabuhan Khorramshahr, dan mengepung Abadan.
"Selama Perang Iran-Irak, kita melihat bahwa Iran tidak berunding atau berdamai ketika wilayahnya diduduki," tuturnya.
"Pada tahun pertama, ketika Irak merebut Khorramshahr dan mengepung Abadan, Irak menawarkan perundingan kepada Iran. Iran menolak selama wilayahnya masih berada di bawah kendali asing."
Vatanka sependapat, dengan berargumen bahwa tampaknya tidak ada strategi yang koheren di balik pendekatan AS terhadap Iran. Ia mencatat gagasan "pergantian rezim", yang disebut oleh Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada awal perang, tidak lagi dilanjutkan.
"Tidak ada strategi besar untuk pergantian rezim. Strategi besarnya hanyalah harapan bahwa rakyat Iran akan bangkit dan menjatuhkan rezim," imbuhnya. "Itu bukan strategi, itu harapan."

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5551686/original/098137000_1775734919-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5551685/original/058687600_1775734917-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550786/original/082358900_1775709175-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550345/original/098102900_1775654404-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5540886/original/036683800_1774840988-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550175/original/049388500_1775640004-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488493/original/037865300_1769753942-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5549536/original/015958600_1775622043-1.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453378/original/090115300_1766476856-disab_cirebon.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441248/original/084139500_1765462277-1000257193.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471176/original/015231200_1768279469-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5437222/original/007704600_1765245308-perempuan_disabilitas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5437040/original/037934400_1765195165-Timnas_Indonesia_U-22_vs_Filipina_U-22-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441187/original/031456400_1765456783-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455127/original/080720800_1766634287-natal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368253/original/080065000_1759368915-persib-bandung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5440254/original/014080000_1765427607-bojan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5440962/original/095544500_1765448208-PSIM_Yogyakarta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1625839/original/093850600_1497591076-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5312155/original/068813000_1754906267-1000195601.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457498/original/029853000_1767002852-WhatsApp_Image_2025-12-29_at_15.31.11_3f186a85.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5100144/original/046094800_1737233574-IMG_20250118_211401.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441379/original/071341600_1765506075-HDI_kalsel.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473955/original/050209800_1768462709-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439452/original/002840900_1765357830-gambar_depok.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5441153/original/025905600_1765454961-Latihan_timnas_Indonesia-4.jpg)