Fasilitas Medis Iran Terdampak Perang, Ratusan Layanan Kesehatan Hancur

7 hours ago 4

, Teheran - Serangan udara berkepanjangan terhadap target militer dan sipil di Iran semakin menekan sistem layanan kesehatan negara itu yang sudah rapuh, menurut berbagai laporan.

Pejabat Iran mengklaim bahwa banyak pabrik farmasi dan fasilitas medis telah terkena serangan sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye pengeboman mereka pada akhir Februari. Baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengonfirmasi bahwa fasilitas Tofigh Daru, yang digunakan untuk memproduksi obat pengobatan kanker, termasuk yang rusak akibat serangan.

Menurut kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, bom juga merusak Institut Pasteur Iran, sebuah rumah sakit psikiatri, dan rumah sakit lain di luar Teheran. Organisasi tersebut telah memverifikasi lebih dari 20 serangan terhadap sistem layanan kesehatan Iran dengan setidaknya sembilan kematian, tambah Tedros.

Secara terpisah, lebih dari 100 pakar hukum internasional berbasis di AS, termasuk profesor dari Harvard, Yale, dan Stanford, mengecam serangan udara yang “menghantam sekolah, fasilitas kesehatan, dan rumah-rumah.”

Mereka mengutip laporan dari Bulan Sabit Merah Iran, yang menyebutkan bahwa 236 pusat kesehatan telah dibom dalam tiga minggu pertama perang, dikutip dari laman DW Indonesia, Kamis (9/4/2026).

Dalam surat mereka, para pakar menyebut serangan AS dan Israel terhadap Iran sebagai “pelanggaran yang jelas terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa” dan mengatakan tindakan itu menimbulkan kekhawatiran serius mengenai pelanggaran hukum humaniter internasional, termasuk kemungkinan kejahatan perang.

Apa yang Dikatakan Israel dan Iran Tentang Tofigh Daru?

Setelah pengeboman Tofigh Daru pekan lalu, Wakil Menteri Kesehatan Iran Mehdi Pirsalehi mengatakan fasilitas tersebut terkena “serangan rudal langsung.”

“Pabrik itu merupakan salah satu produsen utama bahan aktif untuk obat rumah sakit dan obat bedah,” katanya. “Serangan tersebut sepenuhnya menghancurkan jalur produksi serta departemen penelitian dan pengembangan.”

Israel mengonfirmasi serangan tersebut, tetapi mengatakan bahwa Tofigh Daru menggunakan statusnya sebagai perusahaan sipil sebagai “kedok” sambil secara sistematis memasok bahan kimia kepada rezim Iran. Militer Israel mengatakan bahan kimia itu termasuk fentanil, anestesi yang sangat adiktif dan berbahaya.

Pasien kanker dalam bahayaDW berbicara dengan dua dokter dan aktivis kelahiran Iran mengenai serangan terhadap sistem kesehatan Iran dan dampaknya bagi pasien penyakit kronis.

Menurut Dr. Hassan Nayeb-Hashem, yang kini berbasis di Wina dan meninggalkan Iran setelah revolusi 1979, Tofigh Daru memproduksi berbagai obat penting.

“Pabrik ini bertanggung jawab atas sebagian besar produksi negara dan berhasil melokalkan 50 bahan aktif strategis. Sejumlah besar obat kini hilang dari rantai pasokan domestik akibat serangan terbaru,” katanya kepada DW. “Sangat sulit memperoleh jumlah sebesar itu dari luar negeri dalam situasi saat ini.”

Nayeb-Hashem memperingatkan bahwa keterlambatan rantai pasokan dapat berdampak langsung, terutama pada pasien yang sedang menjalani terapi.

Obat kanker merupakan salah satu terapi paling mahal di Iran, dengan biaya setara satu hingga dua bulan gaji. Perusahaan asuransi kesehatan sering menolak membayar obat impor, sehingga banyak pasien hanya memiliki akses terbatas terhadap obat tersebut.

Baik Nayeb-Hashem maupun rekannya Hamid Hemmatpour mengatakan bahwa penghancuran fasilitas medis dan farmasi secara sengaja dapat dianggap sebagai kejahatan perang menurut Konvensi Jenewa dan aturan WHO.

Perlindungan khusus ini hanya bisa dicabut jika fasilitas tersebut terbukti digunakan untuk tujuan militer.

Read Entire Article