Cerita Pengungsi Lebanon yang Kehilangan Rumah karena Perang

15 hours ago 4

Bagi warga Lebanon yang terdampak serangan Israel, rasa aman kini nyaris hilang. Mengungsi tidak serta-merta memberikan perlindungan yang cukup bagi mereka saat ini.

"Kami pergi dari rumah, tapi kami tahu tidak ada tempat yang benar-benar aman, tapi memang tak ada lagi yang bisa kami lakukan,” jelas Fatme.

Dahiyeh, yang dalam bahasa Arab berarti "pinggiran kota”, merupakan kawasan luas di Beirut yang ukurannya hampir menyamai pusat kota. Dalam beberapa dekade terakhir, wilayah ini berkembang pesat akibat arus migrasi dan pengungsian. Banyak orang tinggal di sini karena biaya hidup yang lebih terjangkau, sementara lainnya datang akibat perang, krisis politik, atau minimnya dukungan negara di daerah asal mereka.

Bagi sebagian pengamat luar, Dahiyeh kerap dipandang semata sebagai basis Hizbullah. Namun bagi warganya, kawasan ini adalah lingkungan hidup yang normal dan dinamis, dengan toko, restoran, dan aktivitas sehari-hari. Lebih dari itu, tempat ini adalah rumah bagi mereka.

"Kami punya kehidupan keluarga yang normal di sana. Anak saya sekolah, suami saya bekerja sebagai tukang kayu, dan saya mengurus rumah. Hidup kami baik,” ujar Fatme.

Ia menambahkan, saat itu keluarganya merasa aman dan stabil, sesuatu yang kini perlahan hilang.

Gencatan Senjata yang Tak Benar-benar Ada

Eskalasi konflik meningkat sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dan menewaskan pemimpin tertingginya, Ayatullah Ali Khamenei.

Hizbullah yang didukung Iran kemudian ikut terlibat pada awal Maret, dengan melancarkan serangan roket dan drone ke wilayah Israel, yang dibalas dengan serangan udara. Sejak itu, kekerasan di Lebanon terus meningkat.

Setelah pertempuran pecah, Fatme dan keluarganya langsung pergi dengan mobil. Mereka sempat kembali dua kali dan bertahan selama dua malam, tetapi situasi yang semakin berbahaya membuat mereka harus kembali meninggalkan rumah.

"Kami sangat takut,” kata Fatme. Ia menegaskan keputusan itu diambil demi anaknya.

"Butuh lima tahun bagi saya untuk bisa hamil,” ujarnya. "Dan anak saya masih trauma akibat perang pada 2024. Ia sering takut, bahkan untuk pergi sendiri. Setiap ada suara keras, dia langsung menutup telinganya.”

Meski gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah disepakati pada November 2024, kekerasan tidak benar-benar berhenti. Serangan dan ledakan terus terjadi, menambah ketidakpastian.

Menurut UNIFIL dan pemerintah Lebanon, hingga Februari 2026 tercatat lebih dari 15.400 pelanggaran gencatan senjata, dengan lebih dari 370 orang tewas akibat serangan Israel.

"Serangan yang terus berlanjut tidak hanya menghancurkan rumah dan infrastruktur, tetapi juga merusak fondasi kehidupan sehari-hari dan pemulihan,” ujar Jeremy Ristord dari Doctors Without Borders dalam sebuah pernyataan pada Februari lalu.

Itulah sebabnya putri Fatme masih diliputi ketakutan. Ledakan dan suara keras tak pernah benar-benar berhenti, begitu pula rasa takutnya. Bagi Fatme dan keluarganya, mereka harus pergi dari tempat tinggalnya.

Mereka hanya membawa barang seperlunya. Saat meninggalkan rumah, mereka bahkan belum tahu akan ke mana, yang penting pergi terlebih dulu.

Di jalan, mereka terjebak kemacetan panjang karena banyak warga lain melakukan hal yang sama. Mereka sempat tidur di dalam mobil, sebelum akhirnya menemukan tempat di gedung Azarieh yang kini menjadi penampungan bagi para pengungsi.

"Saya sangat merindukan rumah saya. Kehidupan saya, barang-barang saya, rutinitas saya. Sebulan lalu semuanya masih terasa berbeda. Hidup kami sekarang benar-benar terbalik,” kata Fatme.

Di tempat pengungsian pun, Putri Fatme masih sering menangis tiap saat mendengar suara keras. Setiap kali itu terjadi, Fatme memeluknya erat.

"Di saat seperti itu, saya melupakan rasa takut saya sendiri dan mencoba menenangkannya,” tambahnya.

Read Entire Article