Ahli Ungkap Kalimat Kunci Trump soal Jeda Perang, Arah Perundingan Condong ke Proposal 10 Poin Iran

12 hours ago 5

Liputan6.com, Washington, DC - Trita Parsi salah satu pendiri dan Wakil Presiden Eksekutif (Executive VP) di Quincy Institute for Responsible Statecraft, sebuah lembaga pemikir di Washington DC, Amerika Serikat (AS), merespons jeda perang Iran dengan menyoroti pernyataan Presiden Donald Trump.

Berikut pernyataan Parsi melalui akun media sosialnya di platform X:

"Kalimat terpenting dalam unggahan gencatan senjata Trump adalah bahwa negosiasi selanjutnya akan didasarkan pada proposal 10 poin dari Iran (dan bukan 15 poin dari Trump).

Berikut adalah aspek-aspek utama dari proposal Iran:

  • Penghentian permusuhan permanen: Kesepakatan perdamaian jangka panjang, bukan sekadar gencatan senjata sementara.
  • Jaminan keamanan: Jaminan bahwa Iran tidak akan diserang lagi.
  • Pencabutan sanksi: Penghapusan total semua sanksi AS terhadap Iran.
  • Pembukaan kembali Selat Hormuz: Iran akan membuka kembali jalur energi penting tersebut, tetapi mengenakan biaya sebesar $2 juta per kapal, yang akan dibagi dengan Oman.
  • Keamanan regional: Penghentian serangan Israel di Lebanon dan serangan lain di kawasan.
  • Pendanaan rekonstruksi: Pendapatan dari Selat digunakan untuk membangun kembali infrastruktur, bukan sebagai reparasi langsung."

Dan beginilah pernyataan Trump ketika mengumumkan jeda perang Iran seperti dipublikasikan Gedung Putih di akun media sosialnya:

Berdasarkan pembicaraan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, di mana mereka meminta saya untuk menahan kekuatan destruktif yang akan dikerahkan malam ini ke Iran, serta dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman, saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah.

Alasan dari keputusan ini adalah karena kita telah mencapai dan bahkan melampaui semua tujuan militer, serta sudah sangat dekat dengan tercapainya kesepakatan definitif mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran, dan perdamaian di Timur Tengah. Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran dan meyakini bahwa proposal tersebut merupakan dasar yang dapat digunakan untuk bernegosiasi.

Hampir semua poin perselisihan di masa lalu antara AS dan Iran telah disepakati, namun periode dua minggu ini akan memungkinkan kesepakatan tersebut untuk difinalisasi dan disahkan.

Atas nama AS, sebagai presiden, dan juga mewakili negara-negara di Timur Tengah, merupakan suatu kehormatan bagi saya melihat masalah jangka panjang ini hampir mencapai penyelesaian.

Terima kasih atas perhatian Anda.

Lantas, bagaimana Iran merespons pernyataan Trump? Berikut pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi:

Atas nama Republik Islam Iran, saya menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada saudara-saudara saya, Yang Mulia Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Yang Mulia Marsekal Lapangan Asim Munir, atas upaya tanpa lelah mereka untuk mengakhiri perang di kawasan ini.

Menanggapi permintaan dalam semangat persaudaraan dari PM Sharif melalui cuitannya, serta mempertimbangkan permintaan dari AS untuk melakukan perundingan berdasarkan proposal 15 poinnya, serta pernyataan Presiden AS (POTUS) mengenai penerimaan kerangka umum proposal 10 poin Iran sebagai dasar perundingan, dengan ini saya menyatakan atas nama Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran:

Jika serangan terhadap Iran dihentikan maka angkatan bersenjata kami yang kuat akan menghentikan operasi pertahanan mereka.

Selama periode dua minggu, jalur pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran, dengan tetap memperhatikan keterbatasan teknis.

Read Entire Article