Pencegahan Campak Tak Cuma dengan Hidup Bersih, Perlu Vaksinasi

20 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Campak masih menjadi ancaman kesehatan pada anak meski sering dianggap sebagai penyakit biasa yang bisa sembuh sendiri. Padahal, penularan campak sangat cepat dan berisiko menimbulkan komplikasi serius.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus dan 6 kematian.

Campak memang tidak bisa dianggap penyakit infeksi sepele, dokter spesialis anak Venty dari Bethsaida Hospital Gading Serpong mengungkapkan penyakit yang disebabkan virus campak (morbilivirus) ini bersifat menular. Penyebaran virus terjadi melalui percikan droplet di udara ketika penderita batuk atau bersin.

Virus campak juga dapat bertahan di udara atau pada permukaan benda selama beberapa waktu yang dimana dapat menyebabkan risiko pada orang-orang disekitar penderita.

Venty menjelaskan setelah virus masuk ke dalam tubuh, virus akan berkembang selama 10-12 hari (masa inkubasi), baru kemudian mulai menimbulkan gejala.

"Jika ada satu anak yang terkena campak di lingkungan yang belum terlindungi vaksin, penyakit ini dapat menyebar dengan cepat ke anak-anak lainnya," tuturnya.

Kabar baiknya, ada upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah campak yakni dengan pencegahan umum dan pencegahan spesifik.

Pencegahan umum dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Antara lain:

  • Rutin mencuci tangan dengan sabun
  • Menerapkan etika batuk dan bersin yang benar
  • Mengisolasi penderita di rumah selama masa infeksius, yaitu 4 hari sebelum hingga 4 hari setelah ruam muncul
  • Menghindari kontak langsung dengan kelompok yang berisiko tinggi, seperti bayi, ibu hamil, individu dengan daya tahan tubuh rendah (imunokompromais).

PHBS Saja Tak Cukup, Perlu Vaksinasi

Namun, PHBS saja tak cukup untuk mencegah campak atau keparahan bila terpapar virus itu. Maka perlu didukung dengan pencegahan spesifik dilakukan melalui vaksinasi campak. Tujuannya untuk membentuk kekebalan tubuh dan mengurangi risiko komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga radang otak.

Menurut rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berikut jadwal vaksinasi campak pada anak:

  • Vaksin MR (Measles/Campak dan Rubella/Campak Jerman) pada bayi usia 9 bulan
  • Booster MR/MMR (Mumps/Gondongan, Measles, Rubella) pada usia 15–18 bulan
  • Booster lanjutan MR/MMR pada usia 5–7 tahun.

“Ayo kita terapkan perilaku hidup bersih sehat, isolasi mandiri, dan lengkapi imunisasi campak untuk memutuskan penularan dan mencegah si kecil dari campak dan komplikasinya,”tutur Venty.

Bila Anak Terinfeksi Campak, Penangananya?

Hingga kini belum antivirus spesifik untuk menangani campak. Maka penanganan campak dilakukan bersifat suportif dan simptomatik, yaitu membantu tubuh melawan infeksi serta meredakan gejala yang muncul.

Venty mengungkapkan penanganan suportif yang dapat dilakukan, antara lain:

● Memastikan anak cukup istirahat

● Memberikan asupan nutrisi yang baik

● Memastikan kecukupan cairan untuk mencegah dehidrasi

● Pemberian vitamin A sesuai usia:

○ Usia < 6 bulan: 50.000 IU

○ Usia 6 bulan – 1 tahun: 100.000 IU

○ Usia > 1 tahun: 200.000 IU.

Penanganan simptomatik yang dapat dilakukan, diantaranya:

● Obat demam, obat batuk, dan obat pilek jika diperlukan

● Perawatan mata, dengan membersihkan mata menggunakan kasa steril yang dicelupkan ke dalam air matang yang bersih, serta pemberian tetes mata bila diperlukan

● Perawatan kulit, dengan memastikan kulit tetap bersih dan kering

● Antibiotik, diberikan apabila terdapat infeksi bakteri sekunder sesuai petunjuk dokter.

Kapan Anak Kena Campak Perlu Rawat Inap di RS?

Venty mengungkapkan pada beberapa kasus anak perlu mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan yakni yang mengalami komplikasi dari campak.

“Perawatan di fasilitas kesehatan diperlukan apabila anak mengalami komplikasi, seperti diare yang disertai dehidrasi, pneumonia, malnutrisi, kejang pertama atau kejang demam kompleks, serta radang otak (ensefalitis)," tuturnya. 

"Selain itu, bayi berusia kurang dari 6 bulan dan anak dengan kondisi imunokompromais atau daya tahan tubuh yang rendah juga perlu mendapatkan pemantauan dan perawatan medis," tambah Venty.

Mengingat angka penularan campak tinggi dan potensi komplikasi yang dapat terjadi, orangtua diimbau untuk lebih waspada terhadap gejala campak. Bila mendapati gejala tersebut sebaiknya segera periksakan ke dokter.

"Kami berharap masyarakat dapat lebih waspada terhadap gejala yang muncul dan tidak ragu untuk melakukan pemeriksaan sejak dini agar anak mendapatkan penanganan yang tepat,” pesan Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dokter Margareth Aryani Santoso, MARS.

Read Entire Article