Kencing Saat Mandi Ternyata Punya Dampak Tak Terduga, Ini Penjelasannya

20 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan kencing saat mandi mungkin terdengar sepele dan bahkan sering dilakukan tanpa dipikir panjang. Sebagian orang menganggapnya praktis, bahkan disebut-sebut bisa menghemat air. Namun, di balik kebiasaan ini, ternyata ada sejumlah fakta medis dan risiko yang jarang disadari.

Dokter spesialis urologi, Jamin Brahmbhatt, MD, mengungkapkan, kencing saat mandi sebenarnya bukan masalah besar, tapi tetap perlu dipahami dampaknya.

"Secara umum, ini mungkin bukan masalah besar," ujar Brahmbhatt seperti dikutip dari Health pada Kamis, 26 Maret 2026.

"Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama dari sisi kesehatan dan kebersihan," tambahnya.

Benarkah Kencing Saat Mandi Lebih Ramah Lingkungan?

Salah satu alasan orang melakukan kebiasaan kencing saat mandi adalah untuk menghemat air. Dengan tidak menyiram toilet, penggunaan air bisa sedikit berkurang.

Jika dihitung, frekuensi menyiram toilet dalam sehari bisa menghabiskan lebih banyak air dibandingkan satu kali mandi. Selain itu, penggunaan air juga berkaitan dengan energi. Semakin sedikit air yang digunakan, semakin kecil pula energi yang dibutuhkan.

Meski begitu, dampak penghematannya tergolong kecil. Artinya, kebiasaan kencing saat mandi bukanlah solusi utama untuk menjaga lingkungan, tapi tetap bisa memberikan kontribusi kecil.

Apakah Urine Benar-Benar Bersih?

Banyak orang percaya bahwa urine itu steril. Faktanya, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Urine, kata Brahmbhatt, memang merupakan hasil penyaringan ginjal dari limbah tubuh, yang sebagian besar terdiri dari air. Namun, urine tetap bisa mengandung bakteri, terutama jika seseorang mengalami infeksi saluran kemih (ISK).

"Urine sering dianggap steril karena tidak mengandung organisme hidup dalam kondisi normal. Tapi, ini tidak selalu benar," kata Brahmbhatt.

"Seseorang bisa saja memiliki infeksi, atau urine dapat membawa bakteri saat keluar dari tubuh," tambahnya.

Oleh sebab itu, meskipun terlihat bersih, urine tetap berpotensi membawa kuman.

Read Entire Article