Kenapa Perlu Mudik? Pakar Sebut Pertemuan Fisik Tidak Bisa Digantikan Teknologi

14 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Mudik Lebaran tetap memiliki makna mendalam meski zaman sudah bergeser ke era digital dan modern.

Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aulia Hadi, mengatakan, di era teknologi digital, orang sebenarnya dapat berkomunikasi dengan keluarga melalui panggilan video atau media sosial.

“Namun, teknologi tidak bisa sepenuhnya menggantikan interaksi langsung,” kata Aulia, mengutip laman BRIN, Kamis (19/3/2026).

Sebagai makhluk sosial, manusia tetap membutuhkan pertemuan fisik. Interaksi seperti berjabat tangan, memeluk orang tua, atau mencium tangan memiliki makna emosional yang tidak dapat digantikan oleh komunikasi virtual.

“Pertemuan fisik tetap tidak bisa digantikan teknologi. Ada bahasa tubuh, pelukan, atau mencium tangan orang tua yang memberikan energi emosional tersendiri,” ujarnya.

Aulia mengingatkan para pemudik agar mempersiapkan perjalanan dengan baik, terutama menjaga kesehatan dan keselamatan selama perjalanan.

“Mudik itu tujuannya untuk bertemu keluarga dan mempererat hubungan, jadi yang paling penting adalah tetap berhati-hati selama perjalanan, agar bisa sampai tujuan dengan selamat,” sarannya.

Tradisi Mudik di Indonesia

Aulia mengatakan, tidak ada catatan pasti kapan tradisi mudik mulai muncul di Indonesia.

Meski demikian, sejumlah pakar memperkirakan praktik pulang ke kampung halaman sudah ada sejak masa kerajaan di Nusantara.

“Tidak ada data spesifik yang menjelaskan sejak kapan mudik dimulai. Tetapi sejumlah pakar menyebut fenomena pulang ke kampung halaman ini sudah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara,” jelas Aulia.

Menurutnya, tradisi mudik semakin menguat pada masa Indonesia modern, terutama sejak era 1970-an ketika industrialisasi dan urbanisasi meningkat pesat. Pada masa itu, banyak masyarakat dari daerah berpindah ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, hingga Medan dan Makassar untuk bekerja.

Perpindahan penduduk tersebut memunculkan pola mobilitas baru, yakni bekerja di kota, tetapi tetap mempertahankan hubungan kuat dengan daerah asal. Ketika ada momen tertentu seperti Lebaran, para perantau kembali ke kampung halaman.

“Pada era industrialisasi tahun 1970-an, urbanisasi meningkat dan banyak kota menjadi pusat industri. Dari situ tradisi mudik semakin kuat,” ujar Aulia.

Makna Mudik

Di Indonesia, mudik memiliki makna sosial yang sangat kuat. Salah satu makna utama tradisi ini adalah menjaga hubungan kekeluargaan.

Aulia menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia memiliki budaya komunal yang kuat, yakni budaya yang menekankan pentingnya hubungan sosial dan kekeluargaan. Dalam budaya ini, hubungan keluarga besar tetap dijaga, meskipun anggota keluarga tinggal di tempat berbeda.

“Makna sosial terbesar mudik adalah menjaga relasi keluarga dan ikatan kekerabatan, terutama dengan orang tua dan keluarga besar,” ujarnya.

Momen Lebaran menjadi waktu yang dianggap paling tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Bahkan, diaspora Indonesia di luar negeri sering menyesuaikan jadwal liburnya agar dapat pulang pada momen tersebut.

Selain mempererat hubungan keluarga, mudik juga menjadi momen nostalgia. Para perantau dapat kembali mengunjungi rumah lama, bertemu teman masa kecil, serta melihat perubahan di daerah asal.

Bagi banyak orang, perjalanan ini juga menjadi ruang refleksi. Mereka bisa melihat perbedaan pengalaman hidup di kota besar dengan kondisi di kampung halaman.

“Ketika pulang, kita melihat perubahan daerah asal sekaligus berefleksi, apa yang berubah, apa yang tetap, serta apa yang bisa kita kontribusikan untuk daerah tersebut,” kata Aulia.

Pupuk Mimpi Baru bagi Generasi Muda di Daerah

Selain itu, mudik juga menjadi sarana berbagi pengalaman dan cerita. Para perantau sering menceritakan kehidupan di kota besar atau bahkan di luar negeri kepada keluarga dan kerabat di kampung. Pertukaran cerita tersebut dapat memunculkan imajinasi dan mimpi baru bagi generasi muda di daerah.

Fenomena mudik juga membawa dampak ekonomi yang cukup besar bagi daerah asal. Para perantau biasanya membawa oleh-oleh, memberikan uang kepada kerabat, atau mengadakan acara keluarga.

Menurut Aulia, tradisi memberi uang atau hadiah kepada keluarga dan kerabat juga menjadi bagian dari dinamika sosial mudik. Aktivitas tersebut menciptakan perputaran uang yang cukup besar di masyarakat.

“Secara tidak langsung mudik juga menggerakkan ekonomi, karena para perantau biasanya membawa uang, oleh-oleh, dan berbagi dengan keluarga di kampung halaman,” jelasnya.

Selain budaya komunal, faktor religiositas juga memperkuat tradisi mudik di Indonesia. Mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam menjadikan Idulfitri sebagai momen penting untuk berkumpul bersama keluarga.

“Momen Lebaran menandai kemenangan setelah sebulan beribadah Ramadan. Lebaran menjadi kombinasi unik yang merepresentasikan religiositas atau spiritualitas (puasa, zakat, sedekah, dan sholat Id) dengan tradisi kultural (mudik, berbagi amplop, serta ketupat dan opor) yang menguatkan kekerabatan,” pungkasnya.

Read Entire Article