Irak Akan Adili Militan ISIS yang Dipindahkan dari Suriah

1 month ago 48

Liputan6.com, Baghdad - Pemerintah Irak menyatakan akan menuntut dan mengadili para militan ISIS yang dipindahkan dari penjara dan kamp penahanan di Suriah ke wilayah Irak dalam kesepakatan yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS). Pernyataan ini disampaikan pada Minggu (25/1/2026) oleh Dewan Kehakiman Tertinggi Irak.

Pengumuman dari lembaga peradilan tertinggi Irak itu disampaikan setelah pertemuan para pejabat tinggi keamanan dan politik yang membahas proses pemindahan para tahanan ISIS—yang jumlahnya sekitar 9.000 orang—yang telah ditahan di Suriah sejak runtuhnya kelompok tersebut pada 2019.

Kebutuhan untuk memindahkan para tahanan ini, seperti dikutip dari laporan Associated Press, muncul setelah pasukan pemerintah Suriah yang baru terbentuk bulan lalu berhasil memukul mundur pasukan Kurdi Suriah yang selama ini dipimpin oleh Syrian Democratic Forces (SDF). Kelompok Kurdi tersebut sebelumnya merupakan sekutu utama AS dalam memerangi ISIS dan telah lama menguasai wilayah timur laut Suriah, termasuk lokasi kamp dan penjara yang menahan para anggota ISIS.

Dalam perkembangan terbaru, pasukan Suriah mengambil alih kamp al-Hol yang luas — tempat ribuan orang, sebagian besar keluarga militan ISIS, ditahan — dari pasukan Kurdi. Penarikan pasukan Kurdi ini dilakukan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara pasukan Kurdi yang tergabung dalam SDF dan militer pemerintah Suriah. 

Pada Senin lalu, pasukan Suriah juga menguasai sebuah penjara di kota Shaddadeh, wilayah timur laut Suriah, yang sebelumnya menjadi lokasi kaburnya sejumlah tahanan ISIS saat pertempuran berlangsung. Media pemerintah Suriah kemudian melaporkan bahwa sebagian besar tahanan yang melarikan diri telah berhasil ditangkap kembali.

Kekhawatiran ISIS Kembali Aktif

Bentrok antara militer Suriah dan pasukan SDF memicu kekhawatiran akan aktifnya kembali sel-sel tidur ISIS di kawasan tersebut serta kemungkinan kaburnya para tahanan ISIS. Dalam perjanjian awal dengan pihak Kurdi, pemerintah Suriah menyatakan akan mengambil alih tanggung jawab atas para tahanan ISIS tersebut.

Irak secara khusus menyampaikan kekhawatiran bahwa para tahanan ISIS yang melarikan diri dapat kembali berkumpul dan mengancam keamanan nasional Irak, terutama di sepanjang perbatasan Suriah–Irak yang sangat luas.

Dewan Kehakiman Tertinggi Irak menyatakan bahwa setelah tiba di Irak, para tahanan ISIS yang dituduh terlibat dalam aksi terorisme akan diselidiki oleh aparat keamanan dan diadili di pengadilan dalam negeri.

Militer AS memulai proses pemindahan pada Jumat dengan memindahkan kelompok pertama tahanan ISIS dari Suriah ke Irak. Pada Minggu, menurut dua pejabat keamanan Irak yang berbicara kepada Associated Press dengan syarat anonim sesuai dengan peraturan yang berlaku, sebanyak 125 tahanan ISIS lainnya dipindahkan.

Hingga saat ini, total 275 tahanan telah tiba di Irak. Para pejabat menyebutkan bahwa proses pemindahan berjalan lambat karena militer Amerika Serikat menggunakan jalur udara untuk mengangkut para tahanan.

Gencatan Senjata Diperpanjang

Baik Damaskus maupun Washington menyambut baik tawaran Irak untuk menerima pemindahan para tahanan tersebut.

Sementara itu, pertempuran antara militer Suriah dan SDF sebagian besar telah mereda setelah gencatan senjata yang baru-baru ini diperpanjang. Menurut Kementerian Pertahanan Suriah, perpanjangan gencatan senjata dilakukan untuk mendukung kelancaran operasi pemindahan tahanan oleh pasukan AS.

Kelompok ISIS dinyatakan kalah di Irak pada 2017 dan di Suriah dua tahun kemudian. Meski demikian, sel-sel tidur ISIS masih melakukan serangan mematikan di kedua negara. Sebagai sekutu utama AS di kawasan tersebut, SDF memainkan peran penting dalam kekalahan ISIS.

Selama pertempuran melawan ISIS, ribuan ekstremis serta puluhan ribu perempuan dan anak-anak yang terkait dengan kelompok tersebut ditangkap dan ditahan di berbagai penjara serta di kamp al-Hol.

Kamp al-Hol sendiri menampung ribuan perempuan dan anak-anak.

Tahun lalu, pasukan AS bersama mitra SDF mereka menahan lebih dari 300 militan ISIS di Suriah dan menewaskan lebih dari 20 orang. Dalam sebuah penyergapan pada Desember lalu, militan ISIS menewaskan dua tentara AS dan satu warga sipil AS yang bertugas sebagai penerjemah di Suriah.

Read Entire Article