Liputan6.com, Ramallah - Pasar hasil bumi milik keluarga Samuel Dalou di Ramallah, Tepi Barat, mendadak dipenuhi pasokan sayur mayur lokal dengan harga jauh lebih murah dari biasanya.
Para petani datang dari berbagai wilayah Palestina, menawarkan produk segar yang selama ini didominasi pasokan dari Israel.
Dalou, yang keluarganya mengungsi dari Lydda ke Ramallah sejak 1948, mengaku terkejut melihat kualitas dan harga hasil bumi tersebut. Keheranannya memuncak ketika Ahmad Salim, petani asal Jenin, menawarkan sayuran dengan harga hampir setengah dari harga produk yang biasa didatangkan melalui perantara Israel.
"Ini dari pertanian kami di Jenin," kata Salim, menepis dugaan Dalou bahwa sayuran itu berasal dari Israel, demikian dikutip dari laman Arab News, Senin (26/1/2026).
Fenomena ini mencerminkan perubahan besar di sektor pertanian Palestina, terutama sejak Israel mencabut izin kerja ribuan buruh Palestina menyusul pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Kehilangan akses kerja di Israel memaksa banyak warga Palestina beralih ke pertanian sebagai sumber penghidupan utama.
Salim mengaku awalnya tidak bercita-cita menjadi petani. Ia lebih tertarik pada sastra dan filsafat. Namun, pembatasan pergerakan dan hilangnya pekerjaan membuatnya memilih kembali mengolah tanah. Bersama keluarganya, ia membangun sistem irigasi berbasis panel surya dan mendorong pendirian pembibitan tanaman untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.
"Kami mencari benih dari berbagai negara, bahkan dari Israel, untuk menghasilkan produk yang mampu bersaing dan sesuai dengan kebutuhan pasar Palestina," ujarnya.
Langkah serupa ditempuh Ehab Yasin, 34 tahun, warga Deir Abu Deef, Jenin. Mantan buruh di Israel itu kini mengelola pembibitan tanaman di lahan yang sebelumnya terbengkalai. Ia memulai dari satu dunam dan berkembang menjadi dua dunam, namun permintaan bibit—mulai dari tomat, mentimun, hingga varietas lain—melampaui kapasitas produksinya.
"Pendapatan saya sekarang setara dengan saat bekerja di Israel, tetapi saya punya lebih banyak waktu bersama keluarga dan melihat masa depan yang lebih pasti," kata Yasin.
>Tantangan terbesarnya adalah menjaga suhu rumah kaca di musim dingin karena keterbatasan modal untuk sistem pemanas yang memadai.
Lanjut baca
Wilayah Jenin kini menjadi salah satu pusat kebangkitan pertanian Palestina. Selain sayuran, petani setempat mulai memproduksi buah-buahan seperti alpukat, jambu biji, hingga brokoli yang sebelumnya diimpor dari Israel. Meski demikian, Israel masih mendominasi pasar buah-buahan, dengan nilai ekspor ke wilayah pendudukan mencapai ratusan juta dolar AS per tahun. Pembatasan perbatasan dan kontrol bea cukai yang ketat membuat produsen Palestina semakin sulit mengakses pasar Israel. Kondisi ini sempat memicu kelangkaan produk di pasar lokal. Namun, menurut Dalou, pedagang Palestina beradaptasi dengan memperkuat jaringan distribusi domestik. Ketidakstabilan keamanan di Nablus, pusat pasar hasil bumi terbesar di Palestina utara, mendorong pembentukan pasar alternatif di Desa Beita. Meski relatif lebih aman, akses ke wilayah tersebut kerap terputus akibat penutupan mendadak oleh Israel. Kebangkitan pertanian lokal ini bukan semata dampak perang Gaza. Dalam beberapa tahun terakhir, Palestina secara bertahap mengurangi ketergantungan pada produk pertanian Israel melalui kebijakan perlindungan hasil bumi domestik dan boikot produk dari permukiman Israel. Mantan Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh sebelumnya menggulirkan kebijakan pelepasan bertahap untuk mencapai swasembada pangan. Strategi ini mencakup pengembangan klaster pertanian, penerapan teknologi modern, dan penguatan kemitraan regional. Mantan Menteri Pertanian Palestina Riyad Al-Attari menyebut salah satu fokus utama kebijakan itu adalah Qalqilya, wilayah yang dikepung tembok pemisah dan permukiman Israel. Program tersebut menargetkan pengelolaan 10.000 dunam lahan guna memperkuat ketahanan pangan dan mencegah pengosongan lahan Palestina. "Ini adalah respons strategis terhadap upaya pengambilalihan lahan oleh Israel," kata Al-Attari.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5261712/original/045517300_1750682387-AP23139497851370.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539560/original/054897800_1774604737-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538752/original/033816000_1774579817-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538610/original/012778800_1774528924-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538517/original/073536100_1774521416-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5538183/original/008397800_1774505040-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1723997/original/005107500_1506656488-Sekjen_PBB_Antonio_Guterres_berbicara_di_hadapan_DK_PBB.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427236/original/042414200_1764338646-FOD.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441248/original/084139500_1765462277-1000257193.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4878682/original/015534800_1719648934-260529_opini_Laksamana_Sukardi___.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5430647/original/095128500_1764668680-WhatsApp_Image_2025-12-02_at_16.43.15_c2c5627c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5439128/original/057975800_1765350527-wihaji_stunting.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5428213/original/080486000_1764485675-singkawang.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1448550/original/003955100_1482914623-20161228-Chappy-Hakim-IA1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400168/original/005067900_1762067797-000_1DL27K.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5435848/original/035309400_1765098846-ezzi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4760696/original/079555300_1709519479-20240304-Peringatan_10_Tahun_MH370-AFP_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5435812/original/001909700_1765096127-WhatsApp_Image_2025-12-07_at_15.26.04.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4673429/original/022471300_1701679886-GEMS5488-01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471176/original/015231200_1768279469-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5351360/original/077769500_1758030701-jdt.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5437222/original/007704600_1765245308-perempuan_disabilitas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5437040/original/037934400_1765195165-Timnas_Indonesia_U-22_vs_Filipina_U-22-5.jpg)