Andik Vermansah Bicara Soal Peran Senior di Tim, Pilih Rangkul Pemain Muda dengan Cara yang Tak Biasa

12 hours ago 2

Bola.com, Jakarta - Nama Andik Vermansah punya tempat tersendiri dalam sepak bola Indonesia. Dari Persebaya Surabaya, Madura United, Bhayangkara FC, hingga Timnas Indonesia, kariernya pernah diwarnai berbagai pencapaian yang membuatnya dikenal sebagai salah satu pemain bertalenta di eranya.

Perjalanan Andik juga tidak hanya terbatas di kompetisi domestik. Ia sempat membangun karier cukup panjang di Malaysia bersama Selangor dan Kedah, sebelum kembali melanjutkan kiprahnya di Indonesia.

Kini, di usia 34 tahun, peran Andik mengalami perubahan. Dari yang dulu tumbuh sebagai pemain muda di tengah senior-senior berpengalaman, kini ia justru menjadi figur senior, bahkan dipercaya sebagai kapten Garudayaksa FC di Liga 2.

Perubahan peran itu membawa tanggung jawab baru. Bagi Andik, menjadi pemain senior bukan sekadar soal pengalaman di lapangan, tetapi juga bagaimana membangun hubungan dengan pemain muda dan membantu mereka berkembang di dalam tim.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Andik Pilih Dekati Pemain Muda Lewat Candaan

Andik mengakui jarak usia dengan beberapa rekan setimnya saat ini cukup jauh. Bahkan, ada pemain yang usianya masih belasan tahun di dalam skuad.

“Jarak saya dengan pemain muda jauh ya. Pemain muda ada yang 19 tahun, saya sudah 34 tahun. Tapi rata-rata sih umur 25 sampai 27 tahun. Tapi yang paling muda 19 tahun, kayaknya 18 tahun juga ada,” kata Andik Vermansah di kanal YouTube Mansion Sports FC.

Meski berstatus pemain senior dan punya nama besar, Andik mengaku tidak pernah ingin menjaga jarak dengan pemain muda. Justru ia memilih pendekatan yang cair agar hubungan di dalam tim lebih nyaman.

“Cara saya ngemong beda mungkin sama yang lain. Saya lebih pendekatannya bercanda dulu, biar nanti di lapangan dia enggak segan sama saya. Pokoknya saya setiap ketemu selalu bercanda. Saya enggak pandang bulu itu siapa pun,” ujar Andik.

Menurut Andik, candaan dan sikap jahil yang ia tunjukkan bukan tanpa tujuan. Semua itu justru menjadi cara untuk menghilangkan kecanggungan, terutama bagi pemain muda yang biasanya sungkan terhadap senior.

“Awal-awal mungkin seminggu saya bercanda, setelah itu saya kasih tahu niat saya begitu biar nanti di lapangan kamu enggak segan. Kamu bisa manggil saya apa, biar enggak sungkan,” ucapnya.

“Biasanya pemain muda sama senior kan segan. Saya sering jahil, tapi alhamdulillah mereka juga merasa nyaman.”

Senioritas di Lapangan dan di Luar Lapangan Harus Dibedakan

Bagi Andik, menjadi senior juga soal tahu kapan harus tegas dan kapan harus cair. Ia menilai perlakuan di lapangan tentu berbeda dengan hubungan sehari-hari di luar pertandingan.

“Kalau di lapangan, yang penting lebih kayak nurut ya. Bukan saya merasa pintar, enggak. Tapi mungkin karena sudah pengalaman. Apa yang dulu saya dapat dari senior, yang positif, itu saya berikan ke pemain muda,” kata Andik.

Ia mengaku kerap membagikan pengalaman kepada pemain-pemain muda, terutama hal-hal yang dulu ia pelajari saat masih berada di posisi mereka.

Namun di luar lapangan, suasananya berbeda.

“Kalau di mes, lebih sering bercanda. Lebih jahil saya. Di mes lebih nongkrong,” ujarnya sambil tersenyum.

Andik juga menegaskan keberadaan pemain senior di dalam tim tetap penting, bukan hanya untuk menjaga keseimbangan ruang ganti, tetapi juga menjadi tempat berbagi pengalaman bagi pemain muda.

“Harus dibutuhkan, mungkin dua atau tiga pemain senior itu sangat penting di tim kalau menurut saya. Dari saya bercanda pun, pokoknya ada tujuannya,” kata Andik.

  • 0%suka
  • 0%lucu
  • 0%sedih
  • 0%marah
  • 0%kaget
  • 0%aneh
  • 0%takut
  • 0%takjub
  • Choki Sihotang
  • Gregah Nurikhsani
Read Entire Article