Iran Peringatkan AS: Tak Boleh Ada Pasukan Musuh yang Selamat Dalam Invasi Darat

6 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Panglima Angkatan Darat Iran Amir Hatami memperingatkan bahwa tidak boleh ada pasukan musuh yang selamat jika Amerika Serikat (AS) mencoba melancarkan invasi darat ke Teheran.

“Jika musuh mencoba operasi darat, tidak seorang pun boleh selamat,” tutur Hatami dalam komentar yang disiarkan stasiun televisi pemerintah, IRIB pada Kamis (2/4/2026), seperti dilansir dari Antara.

Hatami mengatakan, pimpinan militer telah menginstruksikan komando operasional untuk memantau pergerakan pasukan AS secara cermat, dan merespons tepat waktu.

“Penting untuk memantau pergerakan dan tindakan musuh dengan sangat teliti dan sangat hati-hati, dari waktu ke waktu, dan untuk menerapkan rencana untuk melawan metode serangannya pada waktu yang tepat,” jelas dia.

“Bayang-bayang perang harus dihilangkan dari negara kita, dan keamanan harus ditegakkan untuk semua,” sambung Hatami.

Gerakan Pentagon

Pada Sabtu, 28 Maret 2026, The Washington Post melaporkan bahwa Pentagon sedang mempersiapkan kemungkinan operasi darat di Iran, seiring ribuan pasukan AS dikerahkan ke Timur Tengah. Pelaksanaan operasi ini disebut masih menunggu keputusan Presiden AS Donald Trump.

Para pejabat AS mengatakan rencana tersebut dapat menandai “fase baru perang” yang mungkin “jauh lebih berbahaya” bagi pasukan AS daripada empat minggu pertama pertempuran, menurut surat kabar tersebut.

Diskusi Pentagon mencakup potensi operasi yang menargetkan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, dan serangan pesisir di dekat Selat Hormuz untuk menetralisir ancaman terhadap pelayaran.

Para pejabat mengatakan misi yang mungkin terjadi dapat berlangsung hingga “beberapa pekan”.

Jumlah Pasukan AS yang Tewas dan Terluka

13 Tentara AS tewas dan lebih dari 300 orang terluka dalam serangan di seluruh wilayah tersebut sejak perang dimulai pada akhir Februari, kata para pejabat.

Eskalasi regional terus berlanjut sejak Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu menewaskan lebih dari 1.340 korban hingga saat ini, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan ini menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

Read Entire Article