Liputan6.com, Teheran - Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat (AS), di mana kedua negara sama-sama memberlakukan blokade di jalur pelayaran tersebut.
Kebuntuan di selat—yang pada masa damai dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas fosil cair— itu telah memunculkan keraguan apakah perundingan damai yang sempat terhenti akan kembali dilanjutkan.
Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen sekaligus kepala negosiator Iran, mengatakan pada Rabu (22/4/2026) malam bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz "mustahil" terjadi selama AS dan Israel melakukan pelanggaran gencatan senjata secara terang-terangan, termasuk blokade laut oleh AS, "penyanderaan ekonomi dunia", dan "provokasi perang oleh zionis".
Ia menambahkan dalam unggahan di platform X bahwa "AS dan Israel tidak mencapai tujuan mereka melalui agresi militer dan juga tidak akan mencapainya melalui intimidasi."
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya menyatakan bahwa pasukan laut mereka telah menghentikan dua kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz dan kemudian menggiringnya ke perairan Iran.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan bahwa IRGC menuduh kedua kapal—MSC Francesca berbendera Panama dan Epaminondas berbendera Liberia—berusaha keluar dari Selat Hormuz secara diam-diam.
Kapal Epaminondas dioperasikan oleh perusahaan Yunani dan menteri luar negeri Yunani mengonfirmasi bahwa telah terjadi serangan terhadap kapal kargo milik Yunani tersebut.
Sebuah lembaga pemantau keamanan maritim yang berbasis di Inggris melaporkan adanya serangan terhadap kapal-kapal di jalur perairan itu pada Rabu, termasuk satu insiden di mana sebuah kapal didekati kapal bersenjata Iran yang kemudian melepaskan tembakan hingga menyebabkan kerusakan berat pada anjungan kapal.
Penyitaan ini menjadi yang pertama kalinya Iran mengambil alih kapal sejak awal perang, yang dimulai pada 28 Februari, dan terjadi setelah AS menembaki dan menyita kapal kargo Iran dan dalam operasi lain menaiki kapal tanker, yang disebut membawa minyak Iran, di Samudra Hindia.
Dampak Perang Trump
Presiden AS Donald Trump belum mampu mengendalikan krisis ekonomi dan diplomatik global yang muncul akibat perang yang dimulainya, yang tidak berhasil menggulingkan rezim anti-AS maupun menghentikan ambisi nuklir Iran.
Sebaliknya, konflik memicu penutupan Selat Hormuz, yang kemudian menyebabkan krisis ekonomi global yang terus memburuk.
Menghadapi tekanan untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut, Trump berupaya menekan Iran agar mengakhiri blokadenya, namun gagal dan kemudian memilih memberlakukan blokade versi AS sendiri, yang menyebabkan kenaikan harga bahan bakar serta ancaman inflasi jangka panjang.
Negara-negara Asia yang bergantung pada minyak dari Teluk Persia terkena dampak besar, dengan kelangkaan bahan bakar, pupuk, dan bahan baku lain yang biasanya melewati selat tersebut. Meski negara-negara Barat lebih terlindungi, mereka tetap terdampak.
Jerman, ekonomi terbesar di Eropa, memangkas proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 0,5 persen pada Rabu, sementara Yunani mengumumkan tambahan bantuan sebesar 500 juta euro untuk rumah tangga dan petani.
Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis mengatakan, "Ekonomi nasional masih bertahan dan bahkan lebih baik dari perkiraan. Namun tekanan dari harga kebutuhan sehari-hari, biaya anak-anak, bahan bakar yang lebih mahal, dan perawatan lansia masih dirasakan."
Seruan PBB untuk Bantu Pelaut
Sementara itu, kepala badan maritim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan bantuan bagi ribuan pelaut yang terjebak di Teluk akibat penutupan Selat Hormuz. Menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO), sekitar 20.000 pelaut dan 2.000 kapal dilaporkan terdampar.
Akhir pekan lalu, Iran menyatakan telah menerima proposal baru dari Washington, namun juga mengindikasikan bahwa perbedaan antara kedua pihak masih sangat besar. Pakistan bertindak sebagai mediator, tetapi sebuah hotel mewah di Islamabad yang telah disiapkan untuk perundingan tetap kosong pada Rabu.
Iran tidak pernah secara terbuka menerima undangan untuk perundingan putaran kedua, sementara delegasi AS yang dipimpin wakil presiden JD Vance tidak pernah meninggalkan Washington.
Seorang pejabat Pakistan yang mengetahui persiapan tersebut mengatakan kepada Reuters, "Kami sudah menyiapkan segalanya. Kami benar-benar siap untuk pembicaraan ini. Sejujurnya, ini merupakan kemunduran yang tidak kami perkirakan karena pihak Iran tidak pernah menolak dan sejak awal bersedia untuk hadir serta ikut serta, dan hingga kini tetap demikian."
Pada masa jabatan pertamanya sebagai presiden, Trump menarik AS dari kesepakatan yang membatasi program pengayaan nuklir Iran. Ia tidak menyukai perjanjian tersebut, yang ditandatangani oleh Barack Obama, dan mendapat tekanan dari Israel, musuh utama Iran, untuk menjauhi jalur diplomasi.
Selama bertahun-tahun, Israel mendorong AS untuk menyerang Iran, namun tidak ada pemerintahan di Washington yang menyetujuinya karena dinilai kontraproduktif dan berisiko memicu kekacauan seperti yang terjadi saat ini.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5563367/original/001869600_1776859587-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4799998/original/095393100_1712843230-gaylord-nelson-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5562315/original/043155600_1776825837-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488493/original/037865300_1769753942-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4663615/original/080916600_1700985154-IMG_1082.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4642291/original/065514000_1699531385-Petani_di_India_Panen_Bunga_Marigold_Jelang_Diwali-AP__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5561956/original/019995700_1776768220-1.jpg)










:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471176/original/015231200_1768279469-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477859/original/053823700_1768883478-disabilitas_kab_probolinggo.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455127/original/080720800_1766634287-natal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368253/original/080065000_1759368915-persib-bandung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457498/original/029853000_1767002852-WhatsApp_Image_2025-12-29_at_15.31.11_3f186a85.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473955/original/050209800_1768462709-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1216325/original/021439400_1461734180-dokter.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5312155/original/068813000_1754906267-1000195601.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5425992/original/049039500_1764245301-20251126AA_PMPC_Persija_Vs_PSIM-27.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452727/original/035236000_1766455041-peparkot_serang.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5461255/original/043750800_1767354469-20260102AA_PMPC_Persija_Jakarta_Jelang_Lawan_Persijap_Jepara-12.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455631/original/056411400_1766721548-aceh_ispa.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493594/original/084966300_1770260452-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482139/original/022541100_1769162196-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465690/original/016658800_1767773884-WhatsApp_Image_2026-01-07_at_14.34.59.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460719/original/079940300_1767274638-WhatsApp_Image_2026-01-01_at_20.17.11.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378198/original/006045500_1760220581-irak_-_indo.jpg)