Bocah 3 Tahun Ditemukan Selamat 6 Hari Setelah Gempa Venezuela

17 hours ago 6

Liputan6.com, Caracas - Seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup setelah enam hari tertimbun reruntuhan akibat gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela. Demikian diungkapkan tim penyelamat asal Yordania seperti dilaporkan BBC.

Rekaman video memperlihatkan para petugas bersorak saat bocah yang diidentifikasi sebagai Klieber Moran oleh presiden sementara Venezuela itu berhasil dievakuasi dari reruntuhan di Negara Bagian La Guaira.

Delcy Rodriguez menyebut keberhasilan penyelamatan tersebut sebagai secercah harapan di tengah bencana.

Penyelamatan itu terjadi ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa puluhan ribu warga kini sangat membutuhkan bantuan makanan dan tempat berlindung.

Korban tewas akibat gempa magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni mencapai 1.943 orang. Lebih dari 10.000 orang terluka, sementara puluhan ribu lainnya masih belum diketahui nasibnya.

Berdasarkan analisis awal terhadap data satelit NASA, sekitar 58.870 bangunan diperkirakan mengalami kerusakan atau hancur akibat guncangan tersebut.

Badan Pertahanan Sipil Yordania menyatakan Klieber telah mendapat pertolongan pertama sebelum dilarikan ke rumah sakit dan kondisi tanda-tanda vitalnya dalam keadaan baik. Presiden Majelis Nasional Venezuela Jorge Rodriguez mengatakan bocah itu kini menjalani perawatan di ibu kota, Caracas.

Klieber ditemukan enam hari setelah gempa, jauh melewati tiga hari pertama yang menurut para ahli merupakan masa dengan peluang terbesar untuk menemukan korban selamat di bawah reruntuhan.

La Guaira menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah. Di sana, banyak warga berupaya melakukan pencarian dan penyelamatan secara mandiri.

Pencarian Korban Terus Berlanjut

Jorge Rodriguez mengatakan penyelamatan Klieber membuktikan masih ada harapan untuk menemukan korban selamat lainnya. Menurut dia, tim pencarian dan penyelamatan dari dalam maupun luar negeri masih terus menyisir reruntuhan. Pemerintah juga telah membuka tempat-tempat penampungan di La Guaira dan sejumlah negara bagian lainnya.

Tim penyelamat dari Amerika Serikat, Meksiko, dan puluhan negara lainnya ikut dikerahkan untuk mencari korban selamat dengan bantuan anjing pelacak serta peralatan berat.

Bantuan internasional pun mulai berdatangan ke Venezuela. Juru bicara PBB mengatakan sebanyak 47 ton bantuan kemanusiaan telah tiba pada Selasa, yang antara lain berisi perlengkapan kesehatan darurat untuk penanganan medis, peralatan persalinan yang aman, perlengkapan perawatan bayi baru lahir, serta kebutuhan pencegahan penyakit.

Di sisi lain, warga Venezuela mulai memakamkan para korban yang sejauh ini telah ditemukan. Sementara itu, banyak keluarga masih menunggu jenazah kerabat mereka yang diduga menjadi korban meninggal.

Di kamar jenazah darurat yang didirikan di Pelabuhan La Guaira, Wilker Molalla mengatakan kepada AFP bahwa ia sedang menunggu proses identifikasi jenazah saudara perempuannya, anak-anak saudaranya, serta anak-anak dari saudara laki-lakinya.

"Dalam keluarga saya ada 11 orang. Hanya dua yang selamat karena saat itu kami sedang bekerja," kisahnya.

Kelangkaan Pangan dan Ancaman Wabah

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) pada Selasa (30/6) menyatakan bahwa kelangkaan pangan terjadi di berbagai wilayah, layanan dasar lumpuh, dan jaringan komunikasi di La Guaira sebagian besar terputus.

"Ketegangan di tingkat komunitas meningkat karena akses terhadap bantuan masih sangat terbatas," kata UNHCR dalam pernyataan yang dipublikasikan di situs resminya.

Daniela Armas, pedagang berusia 18 tahun di La Guaira yang mengalami luka setelah terjatuh dari sepeda motor saat gempa terjadi, mengatakan kepada AFP bahwa bantuan memang mulai disalurkan.

"Namun terkadang orang-orang hampir saling membunuh demi mendapatkan makanan... situasinya seperti sabung ayam," ujarnya.

UNHCR menyatakan membutuhkan dana awal sebesar US$ 15 juta untuk meningkatkan perlindungan, menyalurkan bantuan kebutuhan pokok, serta menyediakan tempat penampungan sementara bagi 30.000 warga terdampak gempa selama enam bulan.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sistem layanan kesehatan kini berada di bawah tekanan yang sangat berat.

"Ada peningkatan risiko merebaknya penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi seperti campak dan difteri, akibat rendahnya cakupan imunisasi," tutur juru bicara WHO Christian Lindmeier.

Read Entire Article