Tujuan Perang Iran Belum Tercapai, Netanyahu Hadapi Ketidakpuasan Publik Jelang Pemilu

4 hours ago 2

Liputan6.com, Tel Aviv - Pemerintahan Iran masih bertahan. Kelompok Hizbullah dan Hamas belum berhasil dikalahkan. Di sisi lain, kepentingan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut mulai tidak sepenuhnya sejalan dengan Israel.

Kondisi tersebut membuat rangkaian perang melawan Iran dan kelompok proksinya tidak berjalan sesuai rencana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Situasi ini berpotensi menjadi masalah serius bagi Netanyahu, yang merupakan perdana menteri terlama Israel, menjelang pemilu yang dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini. Berdasarkan hasil jajak pendapat terbaru, banyak warga Israel merasa tidak puas terhadap kepemimpinan pemerintahannya selama masa perang.

Sejak awal serangan militer gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari, Netanyahu menyatakan bahwa tujuannya adalah melemahkan kekuatan militer Republik Islam tersebut, menghancurkan program nuklir dan rudal balistiknya, serta menciptakan kondisi bagi tumbangnya rezim Iran. Namun, meskipun militer Iran mengalami kerusakan signifikan, negara itu masih memegang kendali jalur pelayaran di Selat Hormuz. 

Pada saat yang sama, perang terbaru Israel melawan kelompok Hizbullah di Lebanon berakhir lebih cepat dari rencana. Netanyahu mengatakan bahwa ia menyetujui gencatan senjata atas permintaan Trump, tetapi menegaskan bahwa Israel "belum selesai" menghadapi kelompok militan yang didukung Iran tersebut. Hingga kini, pasukan Israel masih berada dan menguasai wilayah di Lebanon bagian selatan hingga kedalaman sekitar 10 kilometer dari garis perbatasan.

Hasil jajak pendapat yang menunjukkan ketidakpuasan warga Israel semakin memperparah situasi, terutama di tengah konflik yang belum terselesaikan di Gaza. Terkait itu, Trump disebut menekan Netanyahu untuk mengurangi operasi militer di Gaza.

Lebih dari dua tahun sejak serangan Hamas pada Oktober 2023 yang memicu perang, kelompok tersebut memang melemah tetapi belum sepenuhnya dihancurkan.

"Setelah 925 hari pertempuran sejak 7 Oktober, Israel gagal meraih kemenangan yang menentukan di semua front," tulis Yoav Limor, seorang analis urusan militer seperti dikutip dari Associated Press.

"Di akhir perang demi perang, Israel dipandang sebagai negara yang keputusannya tidak dibuat di Yerusalem, tetapi di Washington."

Di sisi lain, Netanyahu menggambarkan perang melawan Iran sebagai keberhasilan dan langkah pencegahan terhadap ancaman "eksistensial".

"Kami telah menghancurkan kemampuan serangan rezim Iran sejak dini," ujarnya.

"Warga Israel Kecewa"

Kepercayaan publik terhadap pemerintahan Netanyahu merosot tajam setelah serangan Hamas pada 2023. Selama dua tahun berikutnya, ia memimpin serangan balasan besar-besaran terhadap Hamas dan sekutunya, serta berhasil membebaskan puluhan sandera dari Gaza melalui kesepakatan gencatan senjata.

Israel juga mencatat sejumlah keberhasilan militer terhadap Iran dan Hizbullah di Lebanon. Namun, keberhasilan tersebut dipandang tidak berdampak positif terhadap posisi politik Netanyahu. Meskipun perang melawan Iran dan Hizbullah mendapat dukungan luas, hasil yang tidak konklusif membuat banyak warga Israel merasa lelah dan kecewa.

"Orang-orang kecewa karena tujuan yang diharapkan tidak tercapai," kata Dahlia Scheindlin, analis politik di Tel Aviv.

Jajak pendapat oleh Israel Democracy Institute pada pekan pertama perang melawan Iran menunjukkan 64 persen responden memercayai Netanyahu untuk memimpin serangan tersebut. Namun, survei kedua yang dilakukan setelah gencatan senjata pada 8 April menunjukkan penilaian terhadap kinerja pemerintah—tidak hanya Netanyahu—lebih banyak negatif dibandingkan positif.

Survei itu juga menunjukkan mayoritas warga Israel berpendapat bahwa pertempuran melawan Hizbullah di Lebanon seharusnya dilanjutkan.

Dua Gencatan Senjata Berturut-turut

Setelah gencatan senjata dengan Iran dan Hizbullah, sebagian warga Israel mulai mempertanyakan kekuatan hubungan antara Netanyahu dan Trump, serta antara Israel dan AS.

Meski kepentingan Trump terkadang berbeda dengan Netanyahu, presiden AS itu tetap secara terbuka memuji Israel. Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menulis bahwa "terlepas dari suka atau tidaknya orang terhadap Israel, mereka telah membuktikan diri sebagai sekutu BESAR AS."

Trump juga menyatakan akan menjadi tuan rumah bagi Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun di Gedung Putih dalam waktu dekat untuk membahas gencatan senjata. Ia menyebut kesempatan tersebut sebagai sebuah kehormatan.

Namun, warga Israel masih meragukan sikap dan langkah Trump.

Dalam jajak pendapat Israel Democracy Institute, sebagian besar responden menilai kecil kemungkinan bahwa kesepakatan antara AS dan Iran akan cukup memperhatikan keamanan Israel.

Terkait hubungan kedua pemimpin, kantor Netanyahu menolak berkomentar. Namun, seorang pejabat Israel yang berbicara secara anonim menyebut bahwa Trump dan Netanyahu masih berkomunikasi setiap hari.

Akhir tahun lalu, Netanyahu bahkan mengumumkan akan memberikan Israel Prize—salah satu penghargaan tertinggi negara itu—kepada Trump, menjadikannya pemimpin asing pertama yang menerima penghargaan tersebut. Israel juga mengundang Trump untuk menerimanya secara resmi di Yerusalem pada 22 April, bertepatan dengan perayaan 78 tahun kemerdekaan Israel.

Namun, hari tersebut berlalu tanpa kehadiran Trump.

Kemarahan dan Kekhawatiran di Israel Utara

Di wilayah utara Israel, khususnya di dekat perbatasan Lebanon, gencatan senjata memicu kekecewaan mendalam di kalangan warga yang telah mengalami serangan rudal selama satu setengah bulan dari Hizbullah.

"Saya tinggal 100 meter dari perbatasan," tutur Asaf Oakil, warga Kiryat Shmona. "Gencatan senjata? Itu kesalahan."

Banyak toko masih tutup dan protes mulai bermunculan dalam beberapa hari terakhir, dengan sebagian besar kemarahan diarahkan kepada Netanyahu.

"Saya sangat berharap warga di utara akan belajar dari ini dan memilih seseorang yang bisa membantu kami, bukan yang justru menjatuhkan dan mengubur kami," ujar Shosh Tsaoula, warga lainnya.

Pemerintahan Netanyahu kini memasuki bulan-bulan terakhir masa jabatan empat tahunnya dan diwajibkan menggelar pemilu paling lambat akhir Oktober.

Dua politikus oposisi, Naftali Bennett dan Yair Lapid, mengumumkan pada Minggu bahwa mereka akan bergabung dalam pemilu mendatang. Tokoh oposisi populer lainnya, mantan kepala militer Gadi Eisenkot, diperkirakan akan bergabung dengan mereka.

Nadav Eyal, kontributor kolom untuk surat kabar Yediot Ahronoth, mengatakan Netanyahu berada dalam "masalah besar" jika tidak mampu meyakinkan publik bahwa perang melawan Iran, Hizbullah, dan Hamas telah menghasilkan peningkatan keamanan jangka panjang.

"Dengan gencatan senjata yang tidak stabil dan bisa runtuh kapan saja, para pemilih tidak akan merasa puas," imbuhnya. 

Read Entire Article