Menteri Pertahanan Mali Tewas di Tengah Gelombang Serangan Pemberontak

1 day ago 6
  • Siapa korban penting dalam serangan di Mali?
  • Kapan serangan besar-besaran ini terjadi di Mali?
  • Kelompok mana saja yang terlibat dalam serangan ini?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Bamako - Menteri pertahanan Mali tewas dalam serangan besar-besaran yang dilancarkan kelompok ekstremis dan pemberontak, yang juga merebut sejumlah kota serta pangkalan militer. Peristiwa ini menjadi episode kekerasan terbaru di negara yang diperintah junta tersebut, yang telah lama menghadapi kelompok militan terkait al-Qaeda dan ISIS, serta pemberontakan di wilayah utara.

Pemerintah Mali mengonfirmasi kematian Menteri Pertahanan Jenderal Sadio Camara melalui unggahan di laman Facebook kementerian pertahanan dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarganya. Televisi milik negara seperti dikutip dari Associated Press menyiarkan pengumuman kematian tersebut yang disampaikan oleh juru bicara pemerintah Jenderal Issa Ousmane Coulibaly.

Mali diguncang salah satu serangan terkoordinasi terbesar terhadap militernya pada Sabtu (25/4/2026), yang terjadi di ibu kota Bamako serta sejumlah kota dan wilayah lain. Serangan ini menguji peran mitra keamanan Mali, Rusia, yang memiliki pasukan di negara Afrika Barat tersebut.

Pemerintah pada Minggu (26/4) menyatakan bahwa serangan-serangan tersebut diperkirakan telah berakhir. Namun, sejumlah pertanyaan masih belum terjawab, termasuk siapa yang mengendalikan sebuah kota penting di utara yang diklaim telah direbut oleh kelompok separatis.

Pemerintah belum merilis jumlah korban tewas dari serangan Sabtu dan sebelumnya hanya menyebutkan bahwa sedikitnya 16 orang terluka dalam apa yang mereka kecam sebagai aksi teror.

Kelompok separatis telah bertahun-tahun berjuang untuk mendirikan negara merdeka di Mali utara, sementara militan yang berafiliasi dengan al-Qaeda dan ISIS telah memerangi pemerintah selama lebih dari satu dekade.

Menurut pernyataan pemerintah, kediaman Camara menjadi sasaran serangan bom mobil bunuh diri dan serangan lainnya pada Sabtu.

"Ia terlibat dalam baku tembak dengan para penyerang, beberapa di antaranya berhasil ia lumpuhkan," demikian pernyataan tersebut. "Dalam bentrokan sengit, ia terluka dan kemudian dibawa ke rumah sakit, di mana ia akhirnya meninggal dunia."

Separatis Klaim Kuasai Kidal

Seorang juru bicara Front Pembebasan Azawad (FLA) yang dipimpin etnis Tuareg menyatakan bahwa pasukan Africa Corps Rusia dan militer Mali telah menarik diri dari Kota Kidal setelah serangan Sabtu, menyusul kesepakatan untuk keluar secara damai.

"Kidal dinyatakan bebas," ujar juru bicara FLA Mohamed El Maouloud Ramadan.

Dalam pernyataan di televisi negara pada Minggu malam, Kepala Angkatan Bersenjata Jenderal Oumar Diarra mengonfirmasi bahwa militer Mali telah meninggalkan kota tersebut dan pasukannya kini dipindahkan serta disusun kembali di Anefis, sekitar 100 kilometer di selatan Kidal.

Kelompok separatis telah lama menjadikan Kidal sebagai basis kuat pemberontakan sebelum direbut oleh pasukan pemerintah Mali dan tentara bayaran Rusia pada 2023. Perebutan tersebut menjadi kemenangan simbolis penting bagi junta dan sekutu Rusia mereka.

Militan dan Separatis Bersatu

Gelombang serangan pada Sabtu menandai pertama kalinya kelompok separatis bergabung dengan kelompok terkait al-Qaeda, JNIM, yang menyatakan turut terlibat dalam serangan di Kidal serta menyerang sebuah kota di luar Bamako dan tiga kota lainnya pada hari yang sama.

Juru bicara FLA mengonfirmasi adanya koordinasi tersebut.

"Operasi ini dilakukan dalam kemitraan dengan JNIM, yang juga berkomitmen membela rakyat dari rezim militer di Bamako," kata Ramadan.

Kelompok separatis menyerukan pula agar Rusia mempertimbangkan kembali dukungannya terhadap junta militer di Mali, dengan alasan bahwa tindakan mereka telah berkontribusi pada penderitaan masyarakat sipil.

Wassim Nasr, pakar kawasan dan peneliti senior di Soufan Center, mengatakan bahwa koordinasi serangan secara serentak di berbagai wilayah serta pengakuan kerja sama kedua kelompok merupakan hal yang baru.

Ia menambahkan bahwa kerja sama tersebut tidak hanya bersifat militer, tetapi meluas ke ranah politik karena kedua kelompok mengakui bahwa mereka bekerja bersama.

Setelah serangan tersebut, diberlakukan jam malam selama tiga hari di wilayah Bamako, mulai pukul 21.00 hingga 06.00 waktu setempat.

Coulibaly mengatakan bahwa korban luka terdiri dari warga sipil dan personel militer, serta beberapa militan telah tewas. Namun, ia tidak merinci jumlah korban jiwa.

Ancaman bagi Kawasan Lebih Luas

Komunitas Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS) mengecam serangan di Mali dan menyerukan semua negara, pasukan keamanan, mekanisme regional, dan masyarakat Afrika Barat untuk bersatu serta bergerak secara terkoordinasi dalam memerangi ancaman ini.

Setelah serangkaian kudeta militer, pemerintahan junta di Mali, Niger, dan Burkina Faso beralih dari sekutu Barat ke Rusia untuk membantu memerangi kelompok ekstremis.

Situasi keamanan di kawasan tersebut justru memburuk dalam beberapa waktu terakhir, dengan meningkatnya jumlah serangan militan. Pasukan pemerintah dituduh membunuh warga sipil yang dicurigai bekerja sama dengan kelompok militan.

Pada 2024, kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap bandara Bamako dan kamp pelatihan militer di ibu kota, yang menewaskan puluhan orang.

Ulf Laessing dari Konrad Adenauer Foundation mengatakan bahwa kelompok separatis dan JNIM kemungkinan kecil akan menguasai Bamako dalam waktu dekat karena adanya penolakan dari masyarakat setempat.

Meski demikian, serangan tersebut tetap melemahkan posisi mitra Rusia bagi junta Mali.

"Serangan ini merupakan pukulan besar bagi Rusia karena tentara bayaran tidak memiliki intelijen mengenai serangan tersebut dan tidak mampu melindungi kota-kota utama," ujar Laessing. 

Read Entire Article