Trump Tiba-tiba Dukung Penyatuan Irlandia

13 hours ago 2

Liputan6.com, Dublin - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan penyatuan Irlandia akan menjadi sesuatu yang “fantastis”. Pernyataan itu disampaikan saat Trump melakukan kunjungan akhir pekan ke sebuah turnamen di lapangan golf miliknya di Irlandia.

Dikutip dari The Associated Press, Senin (14/9/2026), dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin di Dublin, Trump menyatakan dirinya ingin melihat Republik Irlandia bersatu dengan Irlandia Utara yang saat ini merupakan bagian dari Inggris Raya.

“Saya tidak ingin menimbulkan masalah, tetapi saya ingin melihatnya bersatu,” kata Trump kepada seorang wartawan yang meminta pendapatnya mengenai isu tersebut.

“Itu pada akhirnya akan terjadi. Jadi, sekalian saja terjadi sekarang,” lanjutnya.

“Saya pikir itu akan menjadi hal yang fantastis,” ujar presiden dari Partai Republik tersebut.

Namun, Trump mengakui bahwa “Inggris Raya jelas akan memiliki sesuatu untuk dikatakan mengenai hal itu.”

Pada agenda berikutnya, Trump mengakui bahwa tidak ada “jawaban yang baik” terkait pertanyaan mengenai penyatuan Irlandia. Ia menyampaikan hal itu saat berbicara dengan para pemimpin bisnis dari kedua negara yang berkumpul di kediaman Duta Besar AS.

Perdebatan Penyatuan Irlandia Memanas

Perdebatan mengenai masa depan Irlandia Utara merupakan isu yang sensitif. Perbedaan pandangan mengenai apakah wilayah tersebut seharusnya menjadi bagian dari Irlandia atau tetap menjadi bagian dari Inggris memicu kekerasan selama puluhan tahun.

Irlandia Utara terdiri dari enam wilayah dan memiliki mayoritas penduduk Protestan. Wilayah tersebut hingga kini tetap menjadi bagian dari Inggris Raya.

Sejumlah presiden AS sebelumnya, termasuk Presiden Joe Biden dari Partai Demokrat yang memiliki ikatan emosional kuat dengan Irlandia, menghindari memberikan komentar secara langsung mengenai isu penyatuan tersebut.

Irlandia, yang selama lama berada di bawah dominasi Inggris sebagai negara tetangga yang lebih besar, menjadi negara mayoritas Katolik yang memiliki pemerintahan sendiri sekitar satu abad lalu.

Sementara itu, Irlandia Utara terbagi dalam dua kelompok utama. Kaum nasionalis, yang sebagian besar beragama Katolik, menginginkan penyatuan dengan wilayah Irlandia lainnya. Di sisi lain, kelompok unionis yang mayoritas Protestan ingin tetap menjadi bagian dari Inggris.

Ketegangan tersebut akhirnya meledak dalam konflik yang dikenal sebagai The Troubles, yang melibatkan kelompok paramiliter dari kedua pihak serta pasukan Inggris.

Kesepakatan perdamaian pada 1998, yang dalam proses perundingannya AS memainkan peran penting, sebagian besar mengakhiri kekerasan. Namun, status akhir Irlandia Utara tetap belum ditentukan.

Kesepakatan tersebut memungkinkan digelarnya pemungutan suara mengenai penyatuan jika terdapat indikasi bahwa mayoritas masyarakat akan memilih untuk bersatu.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham pada Rabu mengatakan Inggris hanya akan mempertimbangkan mengizinkan referendum “ketika opini publik telah berubah hingga pada titik di mana seruan tersebut harus dipertimbangkan.”

Kantor Burnham kembali merujuk pada pernyataan tersebut ketika ditanya mengenai komentar Trump.

Pernyataan Trump pada Sabtu, ditambah komentar terbarunya mengenai Kepulauan Falkland, juga dapat dipandang sebagai sindiran terhadap Inggris. Hal itu terjadi di tengah kemarahan Trump atas penolakan London untuk terlibat dalam perang AS-Israel melawan Iran.

Read Entire Article