Reaksi China dan Rusia setelah AS Akui Punya Senjata di Luar Angkasa

4 hours ago 3

Liputan6.com, Beijing - China pada Selasa (15/9/2026) memperingatkan agar luar angkasa tidak dijadikan "medan perang", sementara Rusia menyerukan agar luar angkasa "bebas dari segala jenis senjata". Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya mengonfirmasi memiliki senjata yang ditempatkan di orbit Bumi.

Para analis menilai pengakuan Washington itu hanya menegaskan sesuatu yang selama ini sudah menjadi rahasia umum. Namun, pengumuman tersebut dinilai berisiko memperburuk ketegangan dengan Beijing sekaligus memicu perlombaan senjata di luar angkasa.

Pengumuman itu menandai babak baru dalam persaingan negara-negara besar mengembangkan kemampuan militer di luar angkasa. Persaingan ini semakin cepat seiring kemajuan teknologi, sementara aturan hukum yang mengaturnya belum menyeluruh.

"AS memiliki senjata pengendalian luar angkasa di orbit yang mampu melindungi pasukan gabungan dari tindakan musuh," kata juru bicara Angkatan Antariksa AS (USSF) tanpa menjelaskan secara terperinci jenis senjata yang dimaksud, seperti dilaporkan CNA.

Kementerian Luar Negeri China menentang langkah tersebut dan memperingatkan agar luar angkasa tidak dipersenjatai, dijadikan medan perang atau menjadi arena perlombaan senjata.

"Kami mendesak pihak AS menghentikan perluasan kemampuan militernya dan persiapan perang di luar angkasa," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers.

Rusia pada Selasa juga menyerukan agar luar angkasa tetap "bebas dari segala jenis senjata".

"Kami berharap ada dukungan luas dari masyarakat internasional untuk terus mengupayakan demiliterisasi luar angkasa secara menyeluruh," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Alasan AS Menempatkan Senjata di Luar Angkasa

Pernyataan AS tidak merinci jenis maupun jumlah senjata yang telah ditempatkan di luar angkasa.

"Pengendalian luar angkasa mencakup berbagai misi yang diperlukan untuk menghadapi lawan dan menguasai ranah luar angkasa, baik dengan cara kinetik maupun nonkinetik, untuk memengaruhi kemampuan pihak lawan," demikian pernyataan USSF.

"Kemampuan ini dapat digunakan untuk tujuan ofensif maupun defensif."

Cara nonkinetik dapat mencakup penggunaan laser untuk mengganggu sensor satelit dan gangguan elektromagnetik maupun siber terhadap jalur komunikasi datanya.

Bagi AS, Rusia dan China—dua rival geopolitik utamanya—sama-sama dianggap berpotensi mengancam kepentingan di luar angkasa.

Menurut USSF, China "mengembangkan dan mengoperasikan kemampuan antariksa serta kemampuan untuk melawan sistem antariksa pihak lain sebagai bagian dari strategi modernisasi militernya". Sementara itu, Rusia "memandang luar angkasa sebagai ranah peperangan dan meyakini bahwa keunggulan di luar angkasa akan menjadi faktor penentu dalam konflik pada masa depan".

Militerisasi luar angkasa sebenarnya sudah berlangsung sejak awal perlombaan antariksa. Setelah Uni Soviet meluncurkan Sputnik ke orbit pada 1957, AS dan Rusia mulai mencari cara untuk melengkapi satelit dengan senjata sekaligus menghancurkan satelit milik lawan.

Pada Maret 2019, India mengatakan telah menghancurkan sebuah satelit di orbit rendah melalui uji coba rudal. Dengan langkah itu, India mengikuti jejak Rusia, China, dan AS sekaligus menunjukkan bahwa negara tersebut termasuk salah satu kekuatan antariksa paling maju di dunia.

"Rahasia Umum"

Song Zhongping, pengamat militer independen yang berbasis di Hong Kong dan mantan instruktur militer China, mengatakan kepada AFP bahwa pengumuman tersebut "sama sekali tidak mengejutkan". Menurut dia, fakta bahwa AS memiliki senjata semacam itu "sudah lama menjadi rahasia umum".

"Satu-satunya perbedaan adalah sebelumnya AS membiarkan hal itu tetap samar, sedangkan sekarang mereka mengungkapkannya secara terbuka. Ini menunjukkan Washington tidak lagi berusaha menyembunyikannya," katanya.

"China tidak akan tinggal diam," kata Song seraya mengingatkan bahwa negara ini juga telah memiliki stasiun luar angkasa sendiri di orbit.

"Keputusan China untuk menempatkan senjata di luar angkasa akan sepenuhnya bergantung pada langkah AS ke arah tersebut."

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Beijing memasok Iran dengan citra satelit yang memungkinkan Teheran membidik fasilitas militer secara akurat dan menewaskan personel militer AS di Yordania pada Juli. China membantah klaim tersebut.

Aturan soal Senjata di Luar Angkasa

Pada awalnya, kekhawatiran terbesar adalah kemungkinan penempatan senjata nuklir di luar angkasa. Namun, negara-negara adidaya bersama sejumlah negara lain menandatangani Perjanjian Luar Angkasa atau Outer Space Treaty pada 1967 yang melarang penempatan senjata pemusnah massal di orbit.

Sejak itu, Rusia, AS, China, dan India telah mengembangkan berbagai cara untuk berperang di luar angkasa yang tidak tercakup dalam larangan tersebut, termasuk dengan menargetkan satelit milik negara lawan. Padahal, satelit memiliki peran penting dalam komunikasi militer, pengawasan, dan navigasi.

"Ada kekosongan aturan karena Pasal 4 perjanjian tahun 1967 hanya melarang senjata pemusnah massal dan senjata nuklir di orbit," tutur pakar hukum luar angkasa Laetitia Cesari.

Menurut Cesari, isu tersebut kemungkinan akan masuk dalam agenda pertemuan perlucutan senjata PBB berikutnya pada November.

"Moskow dan Beijing selama sekitar 20 tahun telah berupaya mendorong perjanjian untuk mencegah penempatan senjata di luar angkasa," sementara "negara-negara Barat lebih memilih mengembangkan konsep perilaku yang bertanggung jawab," kata Cesari.

Menurut dia, pengumuman AS tersebut "kemungkinan akan semakin mendorong pendekatan yang lebih membatasi seperti yang selama ini diperjuangkan Moskow dan Beijing".

Read Entire Article