- Kecelakaan kereta api apa yang baru saja terjadi di Indonesia?
- Apa dampak dari tabrakan KRL dan Argo Bromo Anggrek?
- Apa yang sedang diselidiki sebagai penyebab tabrakan KRL dan Argo Bromo Anggrek?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Dunia transportasi Tanah Air kembali berduka. Semalam, terjadi insiden mematikan yang melibatkan tabrakan antara KRL Commuter Line dengan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek.
Kecelakaan yang terjadi di perlintasan sebidang ini mengakibatkan kerusakan parah pada gerbong kereta dan menimbulkan korban jiwa serta luka-luka yang cukup banyak.
Pihak berwenang saat ini masih melakukan investigasi mendalam terkait kegagalan sistem persinyalan atau kemungkinan kelalaian manusia yang memicu tabrakan hebat tersebut.
Kejadian ini menjadi pengingat pahit bahwa meskipun teknologi kereta api terus berkembang, risiko kecelakaan besar selalu mengintai. Sepanjang catatan waktu, dunia telah menyaksikan berbagai peristiwa kelam di atas rel yang merenggut ribuan nyawa dalam sekejap. Sebagai refleksi atas pentingnya keselamatan transportasi, inilah 5 kecelakaan kereta paling tragis sepanjang sejarah, dikutip dari laman World Atlas, Selasa (28/4/2026):
1. Kereta Api Queen of the Sea Line - Sri Lanka pada 26 Desember 2004
Tragedi kereta api paling mematikan sepanjang sejarah terjadi di Peraliya, Sri Lanka, pada 26 Desember 2004. Saat itu, kereta Queen of the Sea Line yang sarat penumpang sedang dalam perjalanan menuju Galle di tengah momen liburan Natal dan hari raya Buddha. Malangnya, gelombang tsunami dahsyat akibat gempa Samudra Hindia menerjang saat kereta berada di pesisir pantai.
Penduduk yang mengira kereta bisa menjadi pelindung justru ikut tersapu saat gelombang kedua yang lebih besar mengangkat dan menghantamkan rangkaian kereta ke bangunan di sekitarnya. Ribuan orang terjebak dan tenggelam di dalam gerbong, menelan total korban jiwa hingga lebih dari 1.700 orang.
2. Kereta Militer Prancis pada 12 Desember 1917
Sebuah tragedi yang seharusnya bisa dihindari terjadi pada 12 Desember 1917, merenggut nyawa sekitar 900 tentara Prancis yang tengah dalam perjalanan pulang untuk liburan Natal. Kereta militer nomor 612 yang berangkat dari Italia menuju Lyon ini mengalami kelebihan beban saat menuruni lereng curam di Saint-Michel-de-Maurienne.
Akibatnya, kereta tergelincir dan terjatuh dari jembatan, memicu kebakaran hebat yang menghanguskan gerbong-gerbong kayu beserta penumpangnya. Ironisnya, masinis sempat menolak berangkat karena kondisi kereta yang tidak aman dan tanpa sistem pengereman yang memadai, namun ia dipaksa mengemudi di bawah ancaman senjata oleh seorang perwira.
3. Kereta E-1 Rumania pada 13 Januari 1917
Pada masa Perang Dunia I, tepatnya 13 Januari 1917, Stasiun Ciurea di Rumania menjadi lokasi bencana kereta api maut yang menewaskan hampir 850 jiwa. Peristiwa ini menduduki peringkat ketiga kecelakaan kereta api dengan jumlah kematian terbanyak di dunia. Hingga kini, detail penyebab kecelakaan tersebut belum terungkap sepenuhnya akibat kurangnya penyelidikan yang memadai pasca-kejadian.
4. Kecelakaan Kereta Api di Bihar India pada 6 Juni 1981
India mencatat salah satu bencana kereta api terdahsyatnya saat sebuah kereta terperosok ke Sungai Baghmati di Bihar pada tahun 1981.
Spekulasi mengenai penyebab kecelakaan yang menewaskan sekitar 750 orang ini beragam, mulai dari faktor cuaca ekstrem yang membuat rel licin hingga aksi penyelamatan hewan di lintasan. Apapun penyebabnya, jatuhnya sebagian besar gerbong ke sungai menjadikan insiden ini salah satu yang paling mematikan dalam sejarah transportasi dunia.
5. Kereta Militer Carranza Meksiko pada 22 Januari 1915
Bencana kereta api Guadalajara tahun 1915 dipicu oleh kondisi kereta yang mengangkut penumpang jauh melampaui kapasitas normalnya. Saat menuruni lereng yang tajam, masinis kehilangan kontrol hingga seluruh gerbong jatuh ke dalam jurang. Insiden mematikan di masa Revolusi Meksiko ini merenggut sekitar 600 nyawa, menjadikannya salah satu kecelakaan transportasi paling kelam di negara tersebut.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3589187/original/035815000_1633058639-agto-nugroho-T-cIpXdef6Y-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4373616/original/042892900_1679963213-Israel-Netanyahu-AFP-800x500-780x470.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/768743/original/079922500_1416393926-800px-Lyndon_B._Johnson_taking_the_oath_of_office__November_1963.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567610/original/070744600_1777294514-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567164/original/047554500_1777268280-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566928/original/049803500_1777261071-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566757/original/089781000_1777248097-Untitled.jpg)










:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471176/original/015231200_1768279469-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477859/original/053823700_1768883478-disabilitas_kab_probolinggo.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473955/original/050209800_1768462709-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1216325/original/021439400_1461734180-dokter.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5425992/original/049039500_1764245301-20251126AA_PMPC_Persija_Vs_PSIM-27.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493594/original/084966300_1770260452-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5461255/original/043750800_1767354469-20260102AA_PMPC_Persija_Jakarta_Jelang_Lawan_Persijap_Jepara-12.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482139/original/022541100_1769162196-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460719/original/079940300_1767274638-WhatsApp_Image_2026-01-01_at_20.17.11.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465690/original/016658800_1767773884-WhatsApp_Image_2026-01-07_at_14.34.59.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471330/original/010256700_1768283654-John_Herdman_-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5432108/original/063647300_1764756771-20142.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4779777/original/024592200_1711004833-IMG_1798.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452898/original/039508500_1766462162-guru_hina_difabel.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468640/original/049006500_1767964837-pus2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485548/original/063674100_1769511840-closeup-shot-sleeping-bat-wrapped-its-wings.jpg)