Kemenkes Ajak Remaja Peduli Kesehatan Mental, Kenalkan Panduan Pertolongan Luka Psikologis di Sekolah

5 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) terus memperkuat upaya peningkatan kesehatan mental remaja melalui edukasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Salah satunya lewat kegiatan bedah buku berjudul Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis bagi First Aider di Sekolah yang menyasar pelajar jenjang SMP dan SMA.

Kegiatan yang digelar di Jakarta ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan literasi kesehatan jiwa sekaligus membekali remaja dengan keterampilan dasar dalam mengenali dan merespons masalah psikologis di lingkungan sekolah.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa luka psikologis sering kali luput dari perhatian karena tidak terlihat secara fisik, padahal dampaknya bisa sangat besar bagi kehidupan remaja.

"Kalau teman kita jatuh saat bermain, kita langsung bantu karena lukanya terlihat. Tapi bagaimana jika yang terluka adalah perasaan? Sering kali kita diam, bukan karena tidak peduli, tapi karena tidak tahu harus berbuat apa," ujar Dante dikutip dari kemkes.go.id pada Selasa, 28 April 2026.

Dia, mengungkapkan, berdasarkan data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sekitar satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir.

Bahkan, gejala depresi dan kecemasan pada remaja disebut bisa hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa. "Artinya, mungkin ada teman di sekitar kita yang terlihat baik-baik saja, padahal sedang berjuang dalam diam. Di sinilah pentingnya kemampuan pertolongan pertama pada luka psikologis," tambahnya.

Melalui panduan ini, Kemenkes ingin mendorong siswa untuk lebih peka terhadap kondisi teman sebaya. Tidak harus menjadi ahli, namun cukup memiliki empati dan keberanian untuk hadir serta mendengarkan.

"Kalian tidak harus jadi ahli. Cukup jadi manusia yang peduli. Mau mendengarkan tanpa menghakimi, memahami sebelum menilai, dan berani berkata,'Kamu tidak sendirian'," ujarnya.

Pesan tersebut menjadi inti dari gerakan ini, yakni menciptakan lingkungan sekolah yang lebih suportif dan terbuka terhadap isu kesehatan mental.

Read Entire Article