Kanker Usus Kini Serang Usia 20-an, Kebiasaan Sehari-hari Ini Ternyata Jadi Pemicunya

22 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Kasus kanker usus atau kanker kolorektal kini tak lagi identik dengan usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit ini justru semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk mereka yang berada di rentang 20 s.d 40 tahun. Tren ini menjadi perhatian serius di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Ketua Health Collaborative Center (HCC), dr. Ray Wagiu Basrowi mengungkapkan bahwa perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor utama di balik fenomena ini.

"Dulu kanker usus dianggap penyakit usia tua. Tapi sekarang, kita melihat peningkatan signifikan pada usia produktif. Ini tidak lepas dari pola hidup modern yang cenderung tidak sehat," ujar Ray dikutip Health Liputan6.com dari unggahan di akun Instagram @hcc.indonesia pada Senin, 27 April 2026.

Menurutnya, penyebab kanker usus tidak berdiri sendiri. Ada kombinasi faktor yang saling berkaitan, mulai dari pola makan hingga kebiasaan harian yang sering dianggap sepele.

Konsumsi makanan ultra-proses, minuman tinggi gula, rendahnya asupan serat, hingga obesitas menjadi pemicu utama. Ditambah lagi dengan kebiasaan duduk terlalu lama, kurang olahraga, sering begadang, dan stres tinggi.

"Tubuh muda bukan berarti kebal penyakit. Justru kalau gaya hidupnya tidak dijaga, risiko penyakit kronis bisa muncul lebih cepat," tambahnya.

Pola makan sehari-hari juga berperan besar dalam meningkatkan risiko kanker usus. Kebiasaan mengonsumsi fast food, daging olahan, makanan instan, serta camilan tinggi kalori tapi rendah serat dapat berdampak buruk jika dilakukan terus-menerus.

Begitu juga dengan minuman manis yang dikonsumsi hampir setiap hari. "Banyak orang merasa sudah kenyang, tapi lupa bahwa yang dikonsumsi belum tentu menyehatkan usus. Ini yang sering tidak disadari," ujar Ray.

Lebih lanjut, Ray menjelaskan bahwa usus memiliki 'memori kebiasaan'. Artinya, apa yang dikonsumsi setiap hari akan memengaruhi kondisi tubuh dalam jangka panjang, termasuk memicu peradangan kronis, mengganggu keseimbangan mikrobioma usus, serta berdampak pada metabolisme dan kesehatan sel.

Sayangnya, gejala awal kanker usus kerap diabaikan. Banyak orang menganggapnya sebagai masalah ringan seperti wasir atau gangguan lambung.

Padahal, tanda-tanda seperti BAB berdarah, sembelit berkepanjangan atau diare yang datang bergantian, perut kembung terus-menerus, nyeri perut berulang, hingga penurunan berat badan tanpa sebab jelas perlu diwaspadai.

"Banyak pasien datang sudah dalam kondisi lanjut karena menganggap gejalanya sepele. Padahal, deteksi dini sangat menentukan keberhasilan pengobatan," kata Ray.

Gaya hidup pekerja modern dan Gen Z juga dinilai memperparah risiko. Rutinitas duduk lama di depan layar, konsumsi kopi atau minuman manis, makan terburu-buru, tidur larut malam, hingga tekanan deadline menjadi kombinasi yang tidak ramah bagi kesehatan usus.

Untuk menekan risiko kanker usus sejak dini, Ray menyarankan perubahan gaya hidup sederhana namun konsisten.

"Mulai dari hal kecil seperti perbanyak sayur dan buah, cukupkan asupan serat, aktif bergerak minimal 30 menit sehari, kurangi makanan olahan, jaga berat badan, tidur cukup, dan jangan abaikan sinyal tubuh," ujarnya.

Ray menekankan bahwa pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Dengan kesadaran dan perubahan kebiasaan sejak muda, risiko kanker usus bisa ditekan secara signifikan.

"Jangan tunggu sakit untuk mulai hidup sehat. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan kondisi tubuh kita di masa depan," pungkas Ray.

View this post on Instagram

A post shared by Health Collaborative Center (HCC) (@hcc.indonesia)

Read Entire Article